UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Apakah suara perempuan cukup didengar dalam sinode?

Desember 5, 2023

Apakah suara perempuan cukup didengar dalam sinode?

Kelompok perempuan berdemonstrasi di Vatikan menuntut Sinode Para Uskup mendengarkan semua lapisan perempuan untuk melakukan keadilan terhadap mereka dalam Gereja. (Foto: Virginia Saldanha)

 Oleh Virginia Saldanha

Dimulainya Sinode tentang Sinodalitas memberikan harapan bagi kaum perempuan – untuk pertama kalinya 82 perempuan berpartisipasi dalam sebuah sinode dan 54 perempuan mempunyai hak bersuara. Kaum perempuan dalam sinode itu melaporkan bahwa diskusi tersebut berlangsung ramah dan bersahabat dan mereka dapat mengekspresikan diri mereka dengan bebas.

Meskipun kami menyadari bahwa sesi pertama ini akan menjadi bahan diskusi untuk sesi berikutnya tahun 2024, kaum perempuan dan kelompok LGBTQI+ mengungkapkan keprihatinan yang sah bahwa aspirasi mereka untuk pengakuan kesetaraan dan martabat baptisan mereka telah diabaikan.

Laporan sintesa sinode tersebut mengungkapkan bahwa hierarki dan patriarki mempunyai tempat yang kuat dalam struktur Gereja. Tidak ada indikasi bahwa sesuatu akan berubah.

Yang paling meresahkan adalah pernyataan yang memperkuat sifat saling melengkapi antara perempuan dan laki-laki. “Kitab Suci memberikan kesaksian tentang saling melengkapi dan hubungan timbal balik antara perempuan dan laki-laki. Perjanjian antara pria dan wanita adalah inti dari rencana Allah bagi penciptaan” dan “Pria dan wanita dipanggil ke dalam persekutuan yang bercirikan tanggung jawab bersama yang non-kompetitif, untuk diwujudkan di setiap tingkat kehidupan Gereja.”

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “tanggung jawab bersama non-kompetitif?” Apakah hierarki mengakui bahwa ajaran Gereja tentang sikap saling melengkapi terhadap perempuan menempatkan mereka pada status sekunder dan menjadi penyebab banyaknya kekerasan terhadap perempuan baik secara spiritual maupun seksual di dalam Gereja dan lingkup rumah tangga?

Sinode “meminta Gereja untuk bertumbuh dalam komitmennya untuk memahami dan mendampingi perempuan, secara pastoral dan sakramental. Kaum perempuan ingin berbagi pengalaman rohani berjalan menuju kekudusan dalam berbagai tahap kehidupan: sebagai kaum muda, sebagai ibu, dalam hubungan persahabatan, dalam kehidupan keluarga di segala usia, di dunia kerja, dan dalam hidup bakti.”

“Proses sinode menunjukkan bahwa perlunya pembaharuan hubungan dan perubahan struktural”

Belum lama ini Gereja memiliki struktur bahkan di tingkat Vatikan, dijalankan oleh perempuan, dibentuk untuk berdialog dan memberdayakan perempuan. Saya bekerja dalam struktur ini di tingkat keuskupan, nasional dan kontinental dan mencoba yang terbaik untuk membantu para uskup memahami dan berdialog dengan kaum perempuan. Namun, bangunan ini tidak bertahan hingga dua dekade. Mengapa?

Perempuan telah belajar untuk menemani satu sama lain dalam pertumbuhan spiritual mereka, berbagi pengalaman hidup dan membantu satu sama lain dalam suka dan duka dalam hidup mereka tanpa adanya struktur ini.

Kami menghargai Sinode yang mengakui bahwa “klerikalisme, patriarki, dan penggunaan wewenang yang tidak tepat terus merusak wajah Gereja dan merusak persekutuan. Pertobatan spiritual yang mendalam diperlukan sebagai dasar bagi setiap perubahan struktural.”

“Proses sinode menunjukkan bahwa perlunya pembaharuan hubungan dan perubahan struktural. Dengan cara ini kita akan lebih mampu menyambut partisipasi dan kontribusi semua orang – baik pria maupun wanita awam, pria dan wanita hidup bakti, diakon, imam dan uskup – sebagai murid-murid misionaris yang turut bertanggung jawab.” Tidak ada kejelasan mengenai perubahan struktural apa yang sedang dipertimbangkan. Apakah hal tersebut akan substansial atau efektif?

Diskusi mengenai diakon bagi perempuan sebagian besar bersifat negatif – “tidak sesuai dengan tradisi Gereja.” Untuk melawan argumen negatif mengenai tradisi, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa “sinodalitas adalah sebuah ekspresi dinamisme tradisi yang hidup.”

Meskipun ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa diakon perempuan sudah ada pada masa Gereja perdana, namun keputusan akhirnya adalah merujuk pada temuan komisi yang ditunjuk oleh Paus Fransiskus untuk melihat kemungkinan menahbiskan perempuan menjadi diakon. Mary Patricia McAleese, seorang aktivis Irlandia dan pakar hukum Gereja dan sipil, menjelaskan keputusan tersebut sebagai “menghindari untuk menyelesaikan suatu masalah.”

“Pelecehan terhadap perempuan, yang tersebar luas dalam Gereja, tidak dibicarakan”

Peran diakon digambarkan sebagai “ditahbiskan untuk pelayanan, untuk melayani Umat Allah dalam pelayanan Sabda, liturgi, dan khususnya amal (lih. LG 29). Dijelaskan bahwa: “Ketidakpastian seputar teologi pelayanan diakonal disebabkan oleh fakta bahwa di Gereja Latin, teologi tersebut baru dipulihkan ke tingkat hierarki yang tepat dan permanen sejak Konsili Vatikan Kedua. Refleksi yang lebih dalam mengenai hal ini juga akan menjelaskan isu akses perempuan terhadap diakonat.” Ditekankan bahwa umat awam telah diterima menjadi diakonat permanen, yang sama sekali bukan merupakan jalan menuju pentahbisan mereka menjadi imam.

Seruan perempuan untuk mempertimbangkan pentahbisan mereka pada pelayanan imamat belum diindahkan. Beberapa wanita bertanya-tanya apakah wanita harus memasuki diakon permanen hanya untuk melayani dalam karya amal ketika kita sudah melakukan pekerjaan ini tanpa penahbisan dan tanpa berada di bawah otoritas atau arahan pria.

Apa yang diminta oleh perempuan adalah kesetaraan dalam pelayanan – oleh karena itu kebutuhan akan penahbisan perempuan adalah untuk melayani sebagai imam bersama laki-laki.

Hal yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa orang-orang yang diidentifikasi sebagai LGBTQI+ digambarkan sebagai orang yang kontroversial karena mereka “mengajukan pertanyaan baru.” Penerimaan mereka dikesampingkan dengan alasan bahwa “kategori antropologi yang kami kembangkan tidak cukup untuk memahami kompleksitas elemen yang muncul dari pengalaman atau pengetahuan dalam sains dan memerlukan penyempurnaan dan studi lebih lanjut.” Hak asasi manusia mereka untuk menentukan nasib sendiri tidak diakui. Keinginan dasar manusia untuk membentuk hubungan afektif telah ditolak. Meski Gereja digambarkan sebagai Ibu?

Pelecehan terhadap perempuan, yang tersebar luas dalam Gereja, tidak dibicarakan. Saya telah menindaklanjuti dengan cermat semua amandemen sejak 2019 mengenai masalah ini. Hingga saat ini, keadilan bagi perempuan korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh klerus belum ditangani secara memadai. Bahkan amandemen yang dibuat oleh Paus Fransiskus tidak diikuti untuk memberikan keadilan bagi para penyintas pelecehan yang dilakukan oleh klerus secara umum.

Maka saya bertanya: Apakah suara perempuan cukup didengar dalam Sinode tentang Sinodalitas? Meskipun Paus Fransiskus terus mengingatkan kita “todos, todos, todos,” semua orang, semua orang, semua orang, harus didengarkan! Hanya ada sedikit remah-remah di sana-sini untuk menenangkan wanita.

Kami, kaum perempuan, telah melewati tahap di mana upaya menenangkan berhasil. Kaum perempuan ingin hak asasi manusia kita setara dengan laki-laki diakui dan diterapkan di Gereja Katolik. Tidak kurang.

*Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi UCA News.

Sumber: Was the voice of women adequately heard at the synod

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi