UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Menjaga tradisi Natal tetap hidup di pedesaan Bangladesh

Desember 21, 2023

Menjaga tradisi Natal tetap hidup di pedesaan Bangladesh

Anjali Gomes menyalakan api di rumahnya di Desa Kuthibari, Bangladesh pada Desember 2023. (Foto: Raphael Palma/UCA News)

 

Anjali Gomes mulai sibuk sejak pertengahan November saat dia mulai mempersiapkan Natal di rumahnya di sebuah desa terpencil di Bangladesh utara.

Sebelum pertengahan Desember ketika musim dingin melanda sebagian besar Bangladesh, dia harus menyiapkan tepung beras buatan sendiri, yang merupakan bahan penting untuk kue Natal tradisional.

Untuk membuat kue berkualitas, Gomes yang berusia 28 tahun dan ibu-ibu seperti dia di Desa Kuthibari, Distrik Natore, menggiling beras secara manual menggunakan dheki, alat tradisional untuk menggiling beras dan membuat tepung.

“Saya tidak punya dheki di rumah, jadi saya pergi ke tetangga untuk melakukan ini,” katanya kepada UCA News sambil tersenyum.

Dibutuhkan kerja seharian penuh untuk menggiling sekitar 20 kilogram beras untuk satu tim yang terdiri dari dua atau tiga orang sehingga membangkitkan semangat pesta di kalangan perempuan meskipun tugasnya berat.

Gomes perlu membeli beras khusus dari pasar lokal untuk membuat tepung beras.

Beras, makanan pokok Bangladesh, tersedia melimpah di desa-desa dan Natal tiba menandai berakhirnya musim panen padi di wilayah tersebut.

Desanya Gomes  dikelilingi sawah  yang luas. Dari rumahnya, orang dapat melihat sawah yang luas,  dengan jalan yang tidak beraspal dan berkelok-kelok, pemandangan yang umum terjadi di Bangladesh yang sebagian besar merupakan wilayah agraris.

Selain tepung beras, mereka juga menggunakan hasil pertanian lain yang mudah didapat seperti susu, telur, dan molase untuk memanggang berbagai macam kue Natal di tungku  berbahan bakar kayu.

Selain dibagikan kepada para anggota keluarga, kue tersebut juga diberikan kepada tetangga, tamu, dan grup lagu Natal yang berkunjung.

Pembuatan kue dan pembagian dimulai beberapa hari menjelang Natal dan berlanjut hingga Tahun Baru.

Namun ada juga pekerjaan lain seperti membersihkan dan mendekorasi rumah.

Anjali Gomes berpose di depan rumahnya di Desa Kuthibari, Bangladesh pada Desember 2023. (Foto: Raphael Palma/UCA News)

Mendekorasi rumah

Gomes harus membersihkan rumah tembok mereka dan beratap seng setidaknya seminggu sebelum Natal.

Beberapa hari sebelum Natal, ia dan anggota keluarga lainnya mendekorasi rumah dengan daun pisang yang tersedia  dan bunga marigold kuning, sebuah tradisi pedesaan yang telah lama dipegang dan diwariskan dari generasi ke generasi sejak misionaris Portugis menginjili pada abad ke-16.

Banyak keluarga Kristiani menanam marigold pada November, tepat sebelum musim dingin tiba agar mereka dapat menggunakan bunganya untuk dekorasi Natal.

Gomes menyesalkan praktik ini perlahan-lahan menghilang karena kurangnya minat di kalangan generasi muda.

“Tapi kami berusaha meneruskan tradisi ini setiap tahunnya,” ujarnya.

“Meski kami belum menanam marigold tahun ini, tetangga kami memiliki bunga tersebut di rumahnya. Kami akan mendapatkan beberapa bunga dari mereka untuk menghiasi rumah kami,” tambahnya.

Selain marigold, banyak keluarga juga menggunakan bahan dekoratif lainnya seperti bintang, cincin, dan hiasan gantung yang terbuat dari kertas dan plastik. Mereka juga menggantungkan lampu serial untuk menerangi rumah-rumah selama musim tersebut.

Penduduk desa juga memasang kandang Natal di depan rumah mereka. Beberapa orang mengibarkan bintang Natal berukuran besar di atas tiang bambu.

Dekorasi dan penerangan seperti itu biasa terjadi di desa-desa yang penduduknya beragama Kristen.

Keluarga berkumpul

Gomes bersama putranya yang berusia dua tahun, Jason, juga tak sabar menantikan kepulangan suaminya, Ujjol Gomes, di Hari Natal.

Pria berusia 40 tahun ini adalah seorang juru masak di sebuah rumah di Dakha, ibu kota negara itu, sekitar 300 kilometer jauhnya, dan pulang ke rumah setiap tiga bulan untuk liburan selama seminggu.

Gomes mengatakan dia tidak terlalu terganggu dengan hiruk pikuk belanja warga desa. Dia telah membeli saree (pakaian) baru gaya India baru untuk dirinya sendiri dan pakaian untuk putranya.

Ketiganya bergabung dengan Ananda Gomes, 55, kakak laki-laki Ujjol, seorang buruh harian yang berpenghasilan sekitar 500 taka (4,6 dolar AS) per hari.

“Saat dia tidak punya pekerjaan pada musim hujan, dia membawa makan bersama kami,” katanya.

Secara tradisional, umat Katolik setempat menyiapkan hidangan tradisional termasuk nasi pulao aromatik, dan kari daging babi, sapi, dan ayam pada Natal dan Tahun Baru.

“Kari babi adalah salah satu kebutuhan utama. Daging babi yang dipelihara oleh keluarga Kristen lebih enak dibandingkan daging babi yang dipelihara oleh pengusaha,” kata Gomes.

Seorang petani terlihat sedang memanen padi di sawahnya di Desa Kuthibari, Bangladesh pada Desember 2023. (Foto: Raphael Palma/UCA News)

Penurunan tradisi secara perlahan

Toko-toko lokal mencatat penjualan besar selama Natal dan Tahun Baru, kata Mukul Rozario, 62, seorang Katolik yang mengelola toko kelontong di pasar Jonail setempat.

Natal membantu Rozario menghasilkan keuntungan ekstra setiap tahun. Namun ia menyesalkan bahwa masyarakat “secara perlahan kehilangan banyak praktik budaya.
Ikatan keluarga, kesatuan sosial dan rasa hormat terhadap warga lansia masih kurang saat ini,” katanya.

Seperti Kuthibari, total ada 14 desa berada di Paroki Maria Virgo Potens di bawah Keuskupan Rajshahi. Di sebagian besar desa, umat Kristen hidup berdampingan dengan tetangga mereka yang beragama Islam dan Hindu.

Keuskupan tersebut memiliki sekitar 70.000 umat Katolik, dan sekitar 50.000 di antaranya adalah masyarakat adat, menurut Uskup Rajshahi Mgr. Gervas Rozario. Sekitar 20.000 sisanya adalah orang-orang berbahasa Bengali, katanya.

Umat Katolik Bengali, seperti Gomes dan Rozario, adalah keturunan migran dari wilayah Bhawal, salah satu basis Katolik tertua dan terbesar di Keuskupan Agung Dhaka di Bangladesh tengah.

Ratusan umat Katolik bermigrasi ke wilayah tersebut seabad lalu dengan tujuan memperoleh dan mengolah tanah murah untuk memerangi kemiskinan, menurut catatan Gereja.

Sebagian besar praktik budaya yang lazim di kalangan paroki Bengali berasal dari Bhawal, kata umat Katolik senior.

Bunga marigold  terlihat di Desa Kuthibari, Bangladesh pada Desember 2023. (Foto: Raphael Palma/UCA News)

Persiapan paroki

Parokinya Gomes menyelenggarakan novena yang puncaknya pada Malam Natal untuk membantu umat paroki mempersiapkan Natal.

Paroki juga mendesak mereka untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa untuk mempersiapkan Natal, kata Pastor John Minto Roy, asisten pastor paroki.

Sementara itu, umat Katolik secara sukarela membersihkan kompleks gereja yang tersebar di lahan seluas 10 hektar dan mendekorasi gedung gereja.

Di beberapa desa, orang muda Katolik membentuk kelompok untuk menyanyikan kirtons (lagu-lagu Natal) diiringi musik dan tarian. Mereka juga mengikuti perlombaan setelah Misa Natal di kompleks gereja.

Paroki mengadakan lomba bagi anak-anak menggambar dengan tema Natal dan membagikan hadiah pada Hari Natal.

Anak-anak berpakaian seperti malaikat menyanyikan lagu-lagu Natal dan menggendong Bayi Yesus di palungan kecil dari rumah ke rumah sementara kelompok lagu Natal bernyanyi dan menari.

“Ini adalah sesuatu yang menggembirakan dan praktik spiritualitas yang meningkatkan persatuan di antara umat paroki,” kata Pastor Roy.

Saat Natal juga merupakan musim pernikahan di paroki-paroki Katolik. Tahun ini, 12 pasangan menikah setelah Natal di paroki.

Setiap keluarga menyumbangkan 200 taka (2 dolar AS) sebagai kontribusi tahunan untuk dana paroki. Namun jumlahnya meningkat menjadi 300 taka tahun ini karena inflasi, kata Pastor Sushanto D’Costa, pastor paroki.

Umat Katolik di paroki menyumbangkan uang menjelang Natal ke Serikat St. Vincentius de Paul, sebuah kelompok relawan Katolik, menawarkan pakaian baru dan bahan makanan kepada orang-orang miskin.

Tahun ini, sekitar 25.000 taka (227 dolar AS) telah berhasil dikumpulkan.

Pastor Roy mengatakan umat Katolik mengumpulkan sejumlah dana dengan bantuan pengusaha Katolik setempat untuk membantu sekitar 40-60 keluarga yang membutuhkan.

“Paket hadiah” untuk keluarga tersebut mencakup dua kilogram daging babi, setengah liter minyak, dan satu kilogram beras aromatik.

“Kami tidak kaya, tapi kami melakukan semua ini karena belas kasihan, bukan untuk memamerkan diri kami di depan umum,” kata seorang pengusaha yang tidak ingin disebutkan namanya.

Sumber: Keeping Christmas traditions alive in rural Bangladesh

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi