UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Natal yang sepi menanti warga di Sri Lanka yang dilanda krisis

Desember 22, 2023

Natal yang sepi menanti warga di Sri Lanka yang dilanda krisis

S. Manoharan, seorang pengusaha ritel terlihat di tokonya di Pettah, Sri Lanka. (Foto: S. Rubatheesan/UCA News)

 

Bagi Nirmala Fernando, Natal tahun ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang kacau, ketika jutaan orang di Sri Lanka mengantri sepanjang satu kilometer untuk membeli barang-barang penting seperti gas untuk memasak, susu bubuk, dan bahan bakar.

“Tahun lalu terjadi kekurangan yang akut. Namun tahun ini, kami hanya punya sedikit uang dan semuanya mahal. Kami tidak bisa membeli banyak,” kata ibu dua anak ini kepada UCA News saat dia berbelanja untuk persiapan Natal di Pettah, sebuah kawasan pasar di Kolombo, iba kota negara itu.

Setiap tahun, keluarga tersebut biasanya mengundang kerabatnya untuk makan malam Natal, namun tidak tahun ini mengingat biayanya. Suaminya, seorang kontraktor di industri konstruksi, adalah pencari nafkah keluarga bersama mertuanya.

“Kami membatasi belanja Natal kami dengan beberapa hadiah untuk anak-anak dan barang-barang penting lainnya. Kami khawatir harga akan naik lagi pada  Januari tahun depan dengan adanya pajak yang tinggi,” katanya.

Seperti Fernando, bagi ribuan keluarga Katolik, Natal tahun ini adalah acara yang sederhana karena kesulitan ekonomi yang sedang berlangsung.

Setelah negara tersebut menyatakan kebangkrutan atas pinjaman luar negerinya pada  April lalu, pemerintahan Presiden Ranil Wickremesinghe memutuskan untuk menggunakan paket dana talangan Dana Moneter Internasional (IMF).

Pendahulunya, Gotabaya Rajapaksa, terpaksa meninggalkan negara itu pada Juli 2022 menyusul protes nasional setelah krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda negara itu sejak tahun 2019.

Krisis ini berlanjut dengan inflasi yang tinggi dan cadangan devisa yang hampir habis, membuat harga komoditas penting menjadi mahal.

Sebagai bagian dari paket dana talangan IMF sebesar  2,7 miliar dolar AS, tahap kedua sebesar  337 juta dolar AS, telah disetujui pada 14 Desember.

Hanya beberapa jam sebelum persetujuan tersebut, parlemen Sri Lanka menyetujui anggaran tahunan dengan suara terbanyak, yang mencakup kenaikan pajak barang dari 15 persen menjadi 18 persen, dan membatalkan amnesti pajak yang diberikan kepada semua produk lain sebagaimana diwajibkan oleh IMF untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Skema pajak baru yang mencakup pajak atas produk-produk manufaktur lokal akan mulai berlaku mulai tanggal 1 Januari. Banyak yang khawatir bahwa harga barang-barang, khususnya barang-barang impor akan semakin naik setelah pajak baru tersebut diberlakukan.

Di pasar ritel Pettah yang ramai di Kolombo, yang dulunya dipenuhi dengan dekorasi musiman dan pohon Natal di seluruh kota, suasana festival lambat  meskipun ada inisiatif pemerintah untuk mempromosikan industri pariwisata.

Masyarakat lambat dalam berbelanja karena kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya, pajak yang lebih tinggi, dan inflasi yang berfluktuasi, kata para pemilik bisnis.

“Tidak banyak orang yang membeli barang-barang Natal atau musiman pada hari-hari ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Orang tidak punya uang ekstra di tangan mereka. Mereka memprioritaskan pembelian barang-barang penting,” kata S. Manoharan, pengusaha ritel di Pettah.

Dia menjual pohon Natal, bola dekorasi, lampu hias, dan topi Santa Klaus.

Harga bawang bombay melonjak hingga 550 rupee (1,71 dolar AS) per kilogram setelah kenaikan pajak diumumkan, katanya.

Laporan media lokal menyebutkan bahwa persediaan telur pun berkurang selama liburan Natal dan Tahun Baru, sehingga mendorong pemerintah untuk memesan impor sebanyak 15 juta telur dari India.

Industri unggas Sri Lanka ambruk tahun lalu. Harga satu butir telur naik menjadi  65 Rupee dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga bahan-bahan telah mendorong naiknya harga kue. Banyak keluarga yang tidak mampu membeli kue mentega dan coklat selama musim perayaan ini yang kini dijual dengan harga 1.350 rupee per kilogram.

Karangan bunga Natal dijual sekitar 700 rupee dan harga  pohon Natal setinggi dua kaki yang terbuat dari plastik adalah 8.000 rupee.

“Mengingat keterjangkauan masyarakat, kami memberikan diskon pada beberapa barang dekorasi hingga dua puluh persen, namun kami tidak melihat antusias masyarakat untuk membelinya,” kata Manoharan.

“Banyak yang mengunjungi toko tapi pergi setelah menanyakan harga,” keluhnya.

Di wilayah minoritas Tamil di Sri Lanka utara, suasana Natal belum membaik karena hujan lebat dan banjir di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Banyak keluarga korban, yang berlindung di pusat pengungsian sementara dan di rumah kerabat, belum kembali ke rumah.

Kesulitan ekonomi yang parah akibat meningkatnya beban pajak dan biaya hidup menjelaskan mengapa banyak orang berencana merayakan Natal dan Tahun Baru secara sederhana, kata Pastor Anthonypillai Gnanapragasam, pengelola Tempat Doa Santa Perawan Maria  Madhu yang populer di Mannar, Provinsi Utara.

“Apapun kesulitan yang mereka alami, seperti yang Yesus Kristus tunjukkan kepada kita untuk merasa puas dan penuh harapan selama masa-masa sulit ini. Saya yakin orang-orang akan menandai musim ini dengan kegembiraan sederhana dan lebih bersikap baik satu sama lain,” kata Pastor Gnanapragasam kepada UCA News.

“Namun,  kesulitan bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat di sini karena mereka hidup melewati masa perang dan keluar dari masa perang dengan dukungan  agama mereka. Saya berharap mereka akan segera keluar dari tantangan ekonomi saat ini,” katanya.

Sumber: Subdued christmas awaits crisis hit Sri Lankans

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi