UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tahun 2023 menempatkan Gereja di India dengan berbagai permasalahan

Januari 2, 2024

Tahun 2023 menempatkan Gereja di India  dengan berbagai permasalahan

Para pengunjuk rasa membakar patung Perdana Menteri Narendra Modi dalam demonstrasi di Manipur tahun ini. Pemimpin partai pro-Hindu itu tidak pernah mau mengunjungi negara bagian yang dilanda konflik tersebut, bahkan setelah kematian 200 orang, sebagian besar adalah orang Kristen. (Foto: AFP)

 

Tahun 2023 telah menempatkan Gereja di India di peta global karena berbagai permasalahan seperti kekerasan sektarian, persekusi, pelecehan oleh klerus, penyimpangan keuangan, dan perselisihan liturgi.

Kekerasan sporadis yang sedang berlangsung di Manipur, di mana kerusuhan etnis yang belum pernah terjadi sebelumnya dimulai pada 3 Mei dan menewaskan  sekitar 200 orang, merupakan kasus yang menonjol sebagai kasus permusuhan terhadap umat Kristen.

Kekerasan tersebut telah menyebabkan lebih dari 50.000 orang mengungsi, sebagian besar warga Kuki beragama Kristen, yang terus mendekam di kamp-kamp bantuan yang dikelola negara karena mereka mengalami kehilangan rumah dan harta benda.

Mereka praktis menjadi lumpuh setelah lembaga-lembaga Gereja, yang menjadi pilar pendukung mereka, tidak mampu mendukung mereka karena kekerasan yang tak terduga.

Gereja-gereja dan lembaga-lembaga yang dikelola Gereja, termasuk sekolah, pusat pelayanan  sosial dan seminari, dihancurkan dengan buldoser atau dibakar.

Umat Kristen yang berjumlah 41,29 persen dari 3,2 juta penduduk di negara bagian  berbukit ini berasal dari masyarakat adat.

Kekerasan terhadap mereka akan tetap menjadi tanda “kenangan” yang tak terhapuskan karena sejumlah perempuan mereka diarak telanjang dan diperkosa beramai-ramai di antara kejahatan berat lainnya di bawah pemerintahan Partai Bharatiya Janata (BJP) pro-Hindu.

Negara bagian itu terus berada dalam keadaan tanpa hukum dan tidak ada yang tahu kapan keadaan normal akan pulih kembali.

Persekusi terus meningkat

Penganiayaan terhadap umat Kristen telah memecahkan semua rekor sebelumnya  tahun 20 23 dan menjadi fenomena yang terjadi di seluruh India. Setiap hari setidaknya ada dua insiden persekusi terhadap umat Kristen yang dilaporkan.

Tahun 2023, dari Januari hingga November, terdapat 687 kasus persekusi terhadap umat Kristen yang dilaporkan, yang merupakan angka tertinggi sejak tahun 2014 ketika BJP di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa.

United Christian Forum (UCF), sebuah badan ekumenis yang berbasis di Delhi yang melacak penganiayaan terhadap orang Kristen, dalam laporan terbarunya mengatakan bahwa dari 687 insiden, Negara Bagian Uttar Pradesh dengan populasi 200 juta jiwa, merupakan yang tertinggi di negara bagian mana pun mencatat 287 insiden dimana umat Kristen hanya berjumlah 0,18 persen.

UCF tidak memasukkan kekerasan etnis di Manipur terhadap umat Kristen.

Sebagian besar serangan di Uttar Pradesh dilakukan atas tuduhan palsu mengenai konversi agama yang curang, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh para pemimpin Kristen.

Sebelas dari 28 negara bagian di India, sebagian besar diperintah oleh BJP, telah memberlakukan UU Anti-Konversi, mengkriminalisasi konversi agama melalui rayuan, pemaksaan, dan cara-cara lain.

UU ini, kata para pemimpin Kristen, telah menjadi alat di tangan kelompok Hindu radikal yang bahkan menuduh kebaktian Hari Minggu rutin sebagai konversi agama massal dan mencatat kasus-kasus palsu.

Skandal seks

Gereja juga diguncang skandal seks yang melibatkan uskup dan pastor. Uskup Kannikadass A William dari keuskupan Mysore (kini Mysuru) dicopot dari jabatannya setelah dia dituduh melakukan kejahatan serius seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan penyelewengan dana pada Januari 2023.

Prelatus itu juga dituduh memiliki wanita simpanan.

Dalam perkembangan serupa lainnya, pada Juni 2023, Vatikan menerima pengunduran diri Uskup Franco Mulakkal dari keuskupan Jalandhar di Negara Bagian Punjab, India utara, setahun setelah ia dibebaskan dari tuduhan memperkosa seorang biarawati sebanyak 13 kali tahun 2014-2016.

Namun Mulakkal diperbolehkan mempertahankan gelar  Uskup Emeritus Jalandhar dan tidak menghadapi pembatasan kanonik apa pun dalam pelayanannya.

Beberapa pastor Katolik, seperti Pastor Benedict Anto, seorang anggota Keuskupan Marthandam dari Gereja Siro-Malankara ritus Timur, dan Pastor Francis Fernandes, di bawah Keuskupan Shimoga Latin di Karnataka, ditangkap dan ditahan karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak-anak.

Anto menghadapi tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang siswi dan empat perempuan lainnya pada April  2023, sementara Pastor Fernandes dituduh melakukan pelecehan terhadap seorang gadis di bawah umur. Keduanya membantah tuduhan yang ditujukan kepada mereka.

Penggerebekan terhadap lembaga yang dikelola Gereja

Beberapa sekolah Kristen, asrama dan panti asuhan menyaksikan serangkaian penggerebekan mendadak yang dilakukan oleh badan perlindungan hak-hak anak federal dan negara bagian di  India. Penggerebekan tersebut dilakukan menyusul pencatatan kasus pidana antara lain dugaan  konversi agama terhadap anak dan penganiayaan anak.

Uskup Jabalpur Mgr. Gerald Almeida   di Negara Bagian Madhya Pradesh, India tengah, dan beberapa pastor dan biarawatinya harus bersembunyi setelah mereka didakwa berdasarkan UU anti-konversi yang ketat di negara bagian tersebut. Mereka harus mengajukan banding ke pengadilan untuk mendapatkan perlindungan dari penangkapan.

Seorang kepala sekolah Katolik awam, yang ditangkap karena melakukan pelecehan seksual terhadap gadis-gadis di bawah umur di sebuah asrama yang dikelola Gereja, dibebaskan setelah ditemukan bahwa tuduhan terhadapnya adalah palsu.

Para pemimpin Kristen menegaskan bahwa hasil dari kasus-kasus lain juga akan sama.

Polisi juga menggerebek beberapa  gereja rumah di India Utara dan menangkap Uskup P.C. Singh, moderator Gereja India Utara (CNI) pada 12 September atas tuduhan penyelewengan dana, pemalsuan dan kecurangan. Gereja segera memecatnya dari semua jabatan resmi.

Proses beatifikasi 35 korban Kandhamal

Vatikan telah memberikan izin untuk memulai proses beatifikasi terhadap 35 orang Kristen dari masyarakat adat yang menjadi martir dalam kerusuhan anti-Kristen tahun 2008 di Distrik Kandhamal, Odisha (sebelumnya Orissa) di India timur pada Oktober.

Kepala Gereja Oriental mengundurkan diri

Kardinal George Alencherry, kepala Gereja Ritus Timur Siro-Malabar yang berbasis di Negara Bagian Kerala, India selatan, mengundurkan diri pada 7 Desember lalu akibat perselisihan liturgi di pusat kekuasaannya – Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly.

Kardinal Alencherry juga dituduh menimbulkan kerugian sekitar 10 juta dolar AS bagi keuskupan agung karena menjual tanah Gereja.

Pada hari yang sama, Uskup Agung Andrews Thazhath, administrator apostolik keuskupan agung itu, mengundurkan diri setelah para imam dan umat awam memboikot dia karena gaya kerjanya yang otokratis.

Uskup Agung Thazhath juga dituduh memperburuk krisis liturgi di keuskupan agung itu dan juga menyesatkan Vatikan, termasuk Paus Fransiskus.

Para imam dan umat awam di keuskupan agung yang bermasalah itu, mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik, berupaya menyelidiki isi pesan video yang ditujukan Paus Fransiskus kepada para imam dan umat awam di keuskupan agung tersebut, dan mengklaim adanya beberapa kesalahan faktual.

Mereka menyalahkan Uskup Agung Thazhath karena memberikan informasi yang menyesatkan dan tidak benar kepada paus melalui delegasi kepausannya, Uskup Agung Cyril Vasil, SJ, dari Slovakia, dan Dikasteri Gereja-gereja Oriental Vatikan.

Perselisihan liturgi yang telah berlangsung selama lima dekade ini diwarnai dengan perkelahian, mogok makan, dan bentrokan di dalam katedral, yang menyebabkan penutupannya sejak 24 Agustus 2022, dan masalah seminari menengah selama hampir enam bulan.

Uskup Agung Vasil, yang mengunjungi Kerala pada Agustus untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, kembali ke Roma setelah keputusan kontroversialnya dan kasus pengadilan yang diajukan terhadapnya.

Namun, ia kembali ke keuskupan agung pada 13 Desember dan mengadakan pembicaraan dengan semua pemangku kepentingan untuk menyelesaikan perselisihan secara damai dengan bantuan administrator apostolik baru, Uskup Bosco Puthur, menjelang keputusan paus pada 13 Desember sebagai batas waktu 25 Desember untuk mengakhiri perselisihan tersebut.

Perjuangan selama tiga dekade untuk mengakhiri endogami di Keuskupan Agung Katolik Kottayam di Kerala mengalami perubahan buruk tahun ini ketika seorang anggotanya dipaksa untuk melakukan pernikahan simbolis di depan sebuah gereja yang tertutup pada Mei setelah otoritas keuskupan agung menolak untuk mengeluarkan kewajiban tersebut untuk menikah.

Tindakan keuskupan agung tersebut melanggar perintah pengadilan pada April 2021, sehingga memaksa pihak yang datang untuk menuntut uskup agung dan pastor parokinya karena penghinaan terhadap pengadilan. Proses pengadilan berlanjut.

Sumber: 2023 sees Indian church make news for the wrong reasons

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi