UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup tertua di Indonesia, Mgr. Pain Ratu, meninggal dunia

Januari 8, 2024

Uskup tertua di Indonesia, Mgr.  Pain Ratu, meninggal dunia

Uskup Emeritus Anton Pain Ratu, SVD. (Foto tersedia )

 

Uskup tertua di Indonesia yang dikenal karena keterlibatan sosialnya meninggal dunia dalam usia 95 tahun.

Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, Uskup Emeritus Keuskupan Atambua meninggal pada 6 Januari di Rumah Sakit Daerah Mgr. Gabriel Manek SVD di Atambua karena usia, demikian kata Pastor Vincentius Wun, Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua.

Mgr.  Pain Ratu, sebagaimana dia dikenal, baru saja merayakan ulang tahun ke-95 pada 2 Januari.

Mgr. Pain Ratu memimpin Keuskupan Atambua, yang berbatasan dengan Timor-Leste, selama lebih dari dua dekade.

Ia ditunjuk sebagai Uskup Auksilier Atambua pada 2 April 1982 dan ditahbiskan pada 21 September 1982. Bersamaan dengan dikabulkannya permohonan pensiun Mgr. van den Tillart, SVD, Uskup Atambua ketika itu, Pain Ratu ditunjuk meneruskan kepemimpinannya sejak 9 Mei 1984.

Pada 2003, saat ia berusia 75 tahun, usia pensiun bagi uskup dalam Gereja Katolik, ia mengajukan pengunduran ke Vatikan.

Butuh empat tahun kemudian permohonannya dikabulkan, ketika Paus Benediktus XVI memilih Mgr. Dominikus Saku sebagai penggantinya. Penunjukan Uskup juga menandai peralihan kepemimpinan Keuskupan Atambua dari sebelumnya oleh para uskup SVD ke uskup diosesan.

Selama menjadi Uskup Atambua, Mgr. Pain Ratu dikenal karena keterlibatannya dalam isu sosial.

Menurut Pastor Steph Tupeng Within, seorang imam SVD, mantan pemimpin redaksi koran Flores Pos di Flores, Uskup Pain Ratu terlibat dalam upaya membantu warga Timor-Leste yang eksodus ke wilayah Timor Barat saat konflik memanas pada 1990-an yang berujung kemerdekaan.

“Ia menggerakkan upaya bantuan darurat bagi mereka, sambil juga tetap menuntut tanggung jawab pemerintah atas kehidupan yang layak para pengungsi,” tulisnya.

Jika mereka dipulangkan ke Timor-Leste pun, menurut Mgr. Pain Ratu, “harus dipulangkan secara baik dan damai.”

Kala itu, lepasnya Timor Timur dari Indonesia memang memberikan alasan bagi militer untuk menempatkan pasukan dalam jumlah besar demi mengamankan lokasi perbatasan. Kehadiran aparat melahirkan banyak aksi kekerasan oleh tentara dan pelanggaran hak asasi manusia.

Mgr. Pain Ratu tidak ragu-ragu mengecam keras dan meminta pengurangan kehadiran militer di wilayah perbatasan.

Pada 2006, Mgr. Pain Ratu juga berperan menyerukan penghentian kekerasan di Atambua saat aksi massa yang protes terhadap eksekusi mati asal Flores – Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da Silva – yang didakwa terlibat dalam kerusuhan sektarian di Poso, Sulawesi Tengah. Mgr. Pain Ratu ikut dalam aksi massa itu, lengkap dengan jubah, mempersoalkan hukuman mati, dalam kasus yang juga mendapat perhatian dari Vatikan.

Kala itu, saat eksekusi akhirnya terlaksana pada 22 September 2006, Atambua rusuh oleh aksi protes rakyat, disertai pembakaran gedung simbol penegakan hukum.

“Siapa yang berani turun ke jalan untuk meredam gejolak massa? Siapa yang bisa didengar suaranya oleh para aktivis dan menjadi sandaran aparat keamanan yang gelisah? Hanya Mgr. Anton Pain Ratu seorang,” kata Pastor Witin.

“Ia dibonceng sepeda motor berkeliling Atambua sambil menyerukan penghentian aksi kekerasan dan pengrusakan. Atambua kembali tenang,” jelasnya.

Pastor itu menyebut Mgr. Pain Ratu telah menunjukkan keterlibatannya di tengah persoalan sosial kemanusiaan.

“Sebagai nabi ia telah memberikan contoh tentang keberpihakan Gereja kepada kaum kecil dan tertindas dengan corak Alkitabiah yakni perjuangan tanpa kekerasan. Ketidakadilan memang harus ditolak tetapi kekerasan tidak dapat dibenarkan, apapun alasannya,” katanya.

Sejak pensiun, ia tinggal di dekat Tempat Ziarah Bitauni di Paroki St. Maria di Kiupukan. Tempat itu ia minta sendiri dalam sebuah surat sebelum pentahbisan penggantinya, Uskup Dominikus.

Di tempat itu, sebagaimana ditulisnya dalam surat tersebut, ia ingin menggunakan sisa hidup “sebaik mungkin dengan berdoa, menulis dan membantu Keuskupan Atambua sejauh kemampuan dalam bidang pelayanan.”

Hingga kemudian mengembuskan napas terakhirnya, di tempat itu, Mgr. Pain Ratu memang masih aktif membaca, menulis dan memimpin Misa.

Pain Ratu lahir di Lamawolo di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur dari keluarga petani.

Ia menempuh pendidikan menengah di Seminari St. Yohanes Berkhmans, Todabelu-Mataloko, lalu ke Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan ditahbiskan menjadi imam pada 1958.

Setelah menempuh pendidikan lanjut antropologi budaya di Institut Pastoral Asia Timur dan melewati tahun-tahun pastoral, pada 12 April 1972 ia diangkat menjadi Regional SVD – yang sekarang disebut provinsial. Ia mengemban tugas itu selama tiga periode berturut-turut, hingga penunjukannya sebagai uskup.

Sumber: Indonesias oldest bishop dies at age 95

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi