UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Santo Niño yang ajaib menginspirasi umat Katolik Filipina

Januari 24, 2024

Santo Niño yang ajaib menginspirasi umat Katolik Filipina

Para devosan memegang gambar Santo Nino, Kanak-kanak Yesus, saat mereka berkumpul di luar gereja untuk meminta pemberkatan, pada perayaan tahunan pesta tersebut di Distrik Tondo, Manila pada 21 Januari. (Foto: AFP)

 

Melfe Grace Sanchez bersama suami dan dua anaknya melakukan perjalanan sekitar 153 kilometer dari Kota Palo di Filipina tengah menuju Kota Cebu untuk menghadiri festival Santo Niño de Cebu pada 21 Januari.

Setelah menempuh jarak 45 kilometer dari Palo ke Kota Ormoc dengan mobil pribadi, mereka menempuh perjalanan dengan perahu selama tiga jam untuk mencapai Pulau Cebu.

Ziarah ini merupakan ekspresi panata (pengabdiannya) kepada Anak Suci Yesus (Santo Niño) yang ajaib, kata Sanchez.

“Kami  menghadiri festival  Sinulog tahunan. Pada awal November kami biasanya memesan kamar hotel secara online,” kata Sanchez, 47, seorang pengawas pendidikan, kepada UCA News.

Di Cebu, keluarga Sanchez berebut tempat untuk menghadiri Misa khusus dan perayaan Sinulog (parade tari akbar) yang penuh warna-warni ketika sekitar tiga juta orang dari seluruh negara itu memadati festival ke-459.

“Setiap  festival Sinulog sangatlah positif. Ini adalah hari yang indah di Cebu, dikelilingi oleh keluarga, menyaksikan kekayaan budaya dan sejarah daerah tersebut,” kata Sanchez.

“Kami menantikan bergabung dalam perayaan ini lebih banyak lagi ke depan,” tambahnya.

Di sela-sela tabuhan genderang dan parade warna-warni, Sanchez dan keluarganya juga menari untuk memberi penghormatan kepada Santo Niño, tanpa mempedulikan panas yang membara.

Mereka juga menyempatkan diri untuk berdoa dalam hati di depan patung Santo Niño untuk memohon berkat yang istimewa.

Santo Niño dan agama Katolik di Filipina

Santo Niño de Cebu adalah gelar yang diberikan kepada Anak Yesus dan dikaitkan dengan patung  Anak Yesus abad ke-16 yang secara luas dihormati oleh orang Filipina sebagai keajaiban.

Patung tersebut dianggap sebagai patung rohani tertua di negara mayoritas Katolik yang awalnya dihadiahkan oleh penjelajah Portugis, Ferdinand Magellan, kepada raja setempat Rajah Humabon dan istrinya pada saat pembaptisan mereka tahun 1521.

Pembaptisan Humabon dan Ratu Juana tercatat sebagai awal mula agama Katolik di Filipina.

Festival Santo Niño dianggap sebagai salah satu perayaan keagamaan dan budaya terbesar di dunia.

Pada Misa sebagai bagian dari festival itu  di Basilika Santo Niño, Uskup Agung Cebu Mgr. Jose Palma mendesak  umat untuk mengadopsi “cara pandang baru, cara baru dalam mengambil keputusan dan cara hidup baru.”

“Semoga pencarian transendensi ini membawa kita pada pertumbuhan pribadi, membina komunitas di mana setiap langkah maju mengubah kita menjadi individu yang lebih baik, menciptakan hubungan yang harmonis saat kita melakukan perjalanan bersama sebagai anak-anak Tuhan,” kata Uskup Agung Palma dalam homilinya.

“Semoga gaya hidup kita dipengaruhi oleh Santo Niño ini, mengetahui bahwa di dalam Dia kita semua menjadi saudara dan saudari,” katanya.

‘Air mata kebahagiaan’

Pastor Roy Cimagala dari Cebu mengatakan dia tersentuh oleh “iman dan kesalehan masyarakat” selama festival tersebut.

“Saya tidak bisa menahan tangis kebahagiaan,” kata Cimagala, yang untuk pertama kalinya merayakan Misa dalam festival itu  dan bergabung dengan kelompok tari Sinulog.

“Tuhan memberkati kita! Juga, ini adalah pertama kalinya saya menari bersama Santo Niño  setelah Misa. Sebenarnya saya tidak suka dengan penampilan publik seperti ini, namun suasananya begitu meriah mendorong saya untuk berdansa bersama Santo Niño seperti yang dilakukan konselebran lainnya. Kami benar-benar diberkati, puji Tuhan,” tulis Cimagala di Facebooknya pada 21 Januari.

“Terlintas pemikiran di benak saya bahwa seperti inilah rasanya surga. Sekarang kita harus terus menemani orang-orang menuju tujuan abadi kita!” tambahnya.

Sekitar 17 tahun lalu, otoritas Gereja memasukkan parade tari Sinulog ke dalam festival tersebut.

Iman melampaui batas

Ribuan kilometer jauhnya di Kota Surat di India barat, Rolando Gaspar Jr. yang berusia 34 tahun bergabung dengan festival Santo Nino secara virtual.

“Hari ini, saya mengucapkan syukur dan meneriakkan Viva Pit Señor [Hidup Anak Yesus] dari jauh, bagi Dia yang paling dekat di hati saya,” tulis Gaspar di Facebooknya pada 21 Januari.

Berada di negeri asing, ia merindukan langkah tari Sinulog yang penuh warna dan teriakan “Pit Señor” di hari raya.

Gaspar mengaku sudah mengikuti festival tersebut sejak duduk di bangku kelas IV SD.

“Ini sangat berbeda ketika Anda tumbuh dengan mempercayai Santo Niño. Di mana pun Anda beribadat, Anda akan tetap menyebut namanya,” katanya kepada UCA News.

“Setiap kali saya kembali ke Filipina, hal pertama yang saya lakukan setelah mendarat adalah menyalakan lilin di Basilica Minore del Santo Niño de Cebu,” tambahnya.

Renante Delima, seorang guru Filipina yang tinggal di Alaska, AS, mengatakan bahwa dia menantang angin kencang dan salju tebal di luar sambil mengenakan kemeja bergambar Santo Niño karena dia juga antusias dengan perayaan tersebut sebagai seorang devosan.

Delima mengatakan dia menunjukkan video festival Sinulog kepada para siswa sekolah menengahnya selama program pertukaran budaya internasional pada 21 Januari.

‘Persatuan dan ketahanan’

Sekitar 450 umat dan penari dari Provinsi Kepulauan Dinagat berlayar ke Cebu untuk mengikuti festival Sinulog untuk pertama kalinya.

Selama festival, para penari menampilkan “Tribu Kamanting” – sebuah tarian tradisional yang menceritakan kembali sejarah “persatuan dan ketahanan” pulau mereka.

“Kami berada di sini bukan hanya untuk menang; kami berada di sini karena kami sudah menjadi pemenang. Kami mengalahkan salah satu badai terbesar dalam sejarah kami dengan bersatu,” kata  Alan Ecleo, seorang anggota parlemen, yang memobilisasi dukungan untuk tim tari pulau itu untuk mengikuti kompetisi tari Sinulog, dalam sebuah pernyataan.

“Dan dengan bersatu, kita akan mengalahkan kemiskinan, isolasi, dan hal-hal negatif lainnya,” tambahnya.

Pada 16 Desember 2021, Topan Odette Kategori 5 melanda Kepulauan Dinagat, menyebabkan lebih dari 34.000 keluarga mengungsi dan meratakan lebih dari 14.000 rumah.

Dengan teriakan “Pit Señor!” dan “Barug Dinagat!” (Bangkitlah Dinagat!), pertunjukan tersebut menceritakan sejarah, budaya, dan peran keyakinan Dinagat dalam membuka jalan bagi kekuatan mereka.

Dalam pesannya, Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyerukan jutaan umat “untuk menerjemahkan iman mereka ke dalam tindakan dan menyebarkan pesan harapan, cinta, dan kegembiraan kepada orang lain.”

Sementara itu, Sanchez menegaskan, melihat dan berdoa di depan patung Santo  Niño secara langsung merupakan suatu keistimewaan tersendiri.

“Dengan iman yang kuat dan doa yang sungguh-sungguh kepada  Santo Niño, saya yakin bahwa semua doa dan permohonan saya akan terkabul terutama demi kesehatan, bimbingan, dan perlindungan anak-anak kita,” katanya.

Sumber: Miraculous Santo-Nino inspires Filipino Catholics

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi