UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para uskup Haiti menyerukan pembebasan 6 suster yang diculik

Januari 25, 2024

Para uskup Haiti menyerukan pembebasan 6 suster yang diculik

Pemandangan di kediaman para suster dari Kongregasi Suster-suster Santa Anna, di Port-au-Prince. (Foto: Vatican News)

 

Para uskup Haiti mengajukan permohonan pembebasan enam biarawati yang diculik pada 19 Januari di negara yang terperosok dalam krisis akibat kekerasan geng.

Konferensi Waligereja Haiti dan Keuskupan Agung Port-au-Prince mengatakan warga Haiti bosan dengan apa yang mereka sebut sebagai “teror yang dilakukan oleh para geng,” lapor Vatican News.

Para uskup di negara tersebut mendesak pemerintah untuk melindungi warga negaranya.

Situasi di negara tersebut telah “menjerumuskan Haiti ke dalam krisis yang semakin kacau,” kata mereka dan menuntut pembebasan enam suster tersebut dengan aman.

Para biarawati tersebut adalah anggota Kongregasi Suster-suster St. Anna dan diculik oleh pria bersenjata pada 19 Januari saat mereka bepergian dengan bus di Port-au-Prince, ibu kota negara itu, menurut Konferensi Religius Haiti.

Penumpang lain di bus itu juga diculik, kata konferensi itu dalam sebuah pernyataan,  yang ditandatangani oleh ketua Konferensi Religius Haiti, Pastor Morachel Bonhomme.

“Banyaknya penculikan ini membuat para suster di Haiti sedih dan takut,” kata pernyataan itu.

Paus Fransiskus pada 21 Januari mengimbau pembebasan semua sandera, sambil berdoa untuk “keharmonian sosial” di negara tersebut.

Dalam sambutannya setelah Doa Angelus, paus mengatakan dia “dengan sedih mengetahui berita penculikan” para suster dan yang lainnya. “Saya menyerukan kepada semua orang untuk menghentikan kekerasan, yang menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi masyarakat tercinta.”

Geng menguasai 80% ibukota. Lokasi terjadinya penculikan dikuasai oleh geng Grand Ravine dan Village de Dieu. Selama beberapa tahun, penculikan klerus oleh geng sudah menjadi kejadian biasa.

Tepat sebelum Natal, Uskup Agung Port-au-Prince Mgr. Max Leroys Mesidor mengungkapkan harapannya bahwa pada tahun baru ini situasi negara akan membaik.

“Di Haiti kita akan merayakan Natal dalam konteks penderitaan yang luar biasa, yang terutama disebabkan oleh dominasi kelompok bersenjata dan ketidakpedulian aktor-aktor politik,” katanya.

“Tetapi harapan kita kuat. Mari kita berdoa agar hari raya Imanuel dapat dirayakan dan harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan persatuan persaudaraan dan melepaskan diri dari malam panjang ketakutan, ketidakpercayaan, dan kekerasan. Kami berharap melihat dukungan komunitas internasional untuk perlucutan senjata dan pemulihan negara kami.”

Tahun 2023, kelompok bersenjata dituduh membunuh 4.000 warga Haiti dan melakukan setidaknya 3.000 penculikan. Penculikan itu meningkat 80% dibandingkan tahun sebelumnya. Negara ini berada dalam kekacauan, yang juga ditandai dengan protes yang terkadang disertai kekerasan yang menuntut pencopotan jabatan Perdana Menteri Ariel Henry. Harga barang-barang kebutuhan pokok telah melonjak sebesar 23%, lapor Program Pangan Dunia PBB.

“Para klerus dan religius mempertaruhkan hidup mereka dalam melayani masyarakat termiskin dan paling rentan di Haiti,” kata Edward Clancy, direktur penjangkauan Aid to the Church in Need, yang berbasis di Brooklyn, New York, AS.

“Keberanian mereka merupakan ekspresi kasih umat Kristiani. Merupakan sebuah kekejian jika geng-geng menjadikan mereka sasaran penculikan.”

Didirikan tahun 1947 sebagai organisasi bantuan Katolik untuk pengungsi perang dan diakui sebagai yayasan kepausan sejak tahun 2011, ACN berdedikasi melayani umat Kristiani di seluruh dunia, di mana pun mereka dianiaya atau ditindas atau menderita kebutuhan materi.

ACN, dengan 23 kantor di seluruh dunia, memberikan bantuan pastoral dan kemanusiaan kepada Gereja yang teraniaya di lebih dari 145 negara, bekerja di bawah bimbingan paus.

Di Haiti, Uskup Auksilier Port-au-Prince Mgr. Pierre-André Dumas mengecam penculikan tersebut dan menyerukan diakhirinya “kriminalitas yang menyedihkan ini”.

“Tindakan najis dan biadab ini tidak menunjukkan rasa hormat terhadap martabat para suster yang mengabdikan diri mereka dengan sepenuh hati dan seutuhnya untuk mendidik dan membentuk anggota masyarakat kita yang muda, termiskin, dan paling rentan,” ujarnya, seperti dilansir Vatican News.

Haiti adalah negara termiskin di Belahan Barat.

Sumber: Haiti bishops appeal for release of kidnapped religious sisters

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi