UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik Indonesia berduka atas kehilangan dua tokoh hebat

Januari 25, 2024

Umat Katolik Indonesia berduka atas kehilangan dua tokoh hebat

Pastor Karl-Edmund Prier, SJ, (kiri), adalah pionir inkulturasi musik Gereja di Indonesia dan Ignas Kleden adalah seorang sosiolog terkenal. (Foto disediakan)

 

Umat Katolik di Indonesia berduka atas meninggalnya seorang imam misionaris asal Jerman dan seorang awam Katolik Indonesia yang dipuji atas kontribusi mereka yang luar biasa terhadap Gereja dan masyarakat.

Pastor Karl-Edmund Prier, SJ, seorang perintis inkulturasi musik Gereja, yang dijuluki sebagai  maestro musik liturgi Indonesia, meninggal di Yogyakarta pada 21 Januari pada usia 86 tahun.

Ignas Kleden, seorang sosiolog terkenal, meninggal di Jakarta pada 22 Januari dalam usia 75 tahun.

Pastor Prier meninggal karena penyakit akibat usia lanjut, kata Serikat Yesus Indonesia dalam sebuah pernyataan.

Imam misionaris ini memelopori inkulturasi musik Gereja dengan menggunakan budaya Indonesia melalui Pusat Musik Liturgi, sebuah lembaga yang didirikannya tahun 1971 bersama Paul Widyawan, seorang komposer  Indonesia.

Tahun 1980, ia menerbitkan Madah Bakti, sebuah buku berisi lagu-lagu liturgi Gereja dengan gaya musik dari berbagai daerah, termasuk Jawa, Batak, dan Flores.

Ia menjabat sebagai Ketua Seksi Musik Liturgi Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia dan mengajar musik Gereja di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan di Yogyakarta.

Pada Mei tahun lalu, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, tempat ia mengajar selama 33 tahun (1971-2004), memberinya gelar doktor kehormatan atas kontribusinya pada musik.

Upayanya untuk melakukan inkulturasi musik dalam Gereja diilhami oleh Konstitusi Liturgi Konsili Vatikan Kedua no. 119 agar musik daerah di Indonesia “mendapat penghormatan dan tempat yang layak” dalam liturgi Gereja, kata imam itu setelah menerima penghargaan tersebut.

Ia  tiba di Indonesia tahun 1964 sebagai misionaris.

Pada 11 Februari 2018, ia bersama tiga umat Katolik mengalami luka parah ketika seorang teroris bersenjatakan pedang bernama Suliyono menyerang mereka saat Misa di Gereja St. Lidwina di Sleman, Yogyakarta. Imam itu kemudian memaafkan penyerangnya.

Pastor Riston Situmorang, OSC, sekretaris eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia, mengatakan meninggalnya Pastor Prier “merupakan duka bagi seluruh Gereja di Indonesia,” karena warisannya bagi musik liturgi Gereja sangat berharga.

Ia berharap umat Katolik Indonesia terus “menyanyikan lagu-lagu daerah yang layak dinyanyikan dalam liturgi.”

Ignas Kleden lahir di Waibalun, Larantuka di Pulau Flores  dan belajar di seminari menengah dan seminari tinggi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (sekarang Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif).

Ia dikenal karena sering menulis isu-isu sosial dan budaya untuk Kompas, sebuah surat kabar terkemuka di tanah air, dan sejumlah majalah lain, termasuk Tempo.

Ignas Kleden adalah mantan anggota Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia. Tahun 1998, Paus Johanes Paulus II menunjuknya sebagai pengamat untuk Sinode Gereja Asia yang diadakan di Roma.

Pastor Otto Gusti Madung, SVD, rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero di Flores mengatakan: “Kleden adalah seorang cendikiawan yang tidak hanya memajukan ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia melalui esai dan kritik budaya yang tajam, tetapi juga membawa nuansa filosofis yang mendalam pada studi sosiologinya.”

“Filosofinya tidak abstrak yang mengawang-awang di udara tetapi selalu berdialog dengan realitas sosial. Lebih dari itu, pendekatan akademis Ignas yang selalu solidaritas dengan pihak yang paling menderita, menjadikannya akademisi yang profetik,” tuturnya.

“Kleden akan terus dikenang sebagai sosok yang berjasa besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya di Indonesia,” imbuhnya.

Kleden memperoleh gelar MA di bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie di Jerman tahun 1982 dan gelar doktor di bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld di Jerman tahun 1995.

Tahun 2003, ia menerima Penghargaan Achmad Bakrie karena ia berjasa mendorong pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan tajam melalui esai dan kritik budayanya.

Sumber: Indonesians mourn pioneering Catholic leaders

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi