UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Berkat adalah tanda kedekatan Gereja: paus

Januari 29, 2024

Berkat adalah tanda kedekatan Gereja: paus

Paus Fransiskus berpidato di depan para anggota Dikasteri Ajaran Iman tahun 2022. (Foto: Media Vatikan)

 

Paus Fransiskus  menegaskan bahwa pemberkatan informal yang dilakukan untuk  pasangan sesama jenis atau pasangan lain yang belum menikah bukanlah berkat atas persatuan mereka, namun merupakan tanda kedekatan Gereja Katolik dengan mereka dan harapan bahwa mereka akan bertumbuh dalam iman.

Tujuan dari ‘berkat pastoral dan spontan’ adalah secara nyata menunjukkan kedekatan Tuhan dan Gereja kepada semua orang ketika berada dalam situasi yang berbeda,” kata Paus Fransiskus pada 26 Januari ketika ia bertemu dengan para anggota Dikasteri Ajaran Iman.

Para anggota dikasteri itu mengadakan rapat pleno tahunannya di Vatikan.

Sementara pernyataan Paus Fransiskus kepada para anggota dikasteri itu berfokus pada diskusi mereka tentang sakramen, martabat manusia dan iman, khususnya sentralitas evangelisasi, paus juga menyebut dokumen “Fiducia Supplicans”  tentang “makna pastoral dari berkat,” yang mana diterbitkan oleh dikasteri dan ditandatangani oleh Paus Fransiskus pada 18 Desember.

Dokumen tersebut mengatakan meskipun Gereja “tetap teguh” dalam mengajarkan bahwa pernikahan hanyalah persatuan seumur hidup di antara seorang pria dan seorang wanita, dalam keadaan tertentu para imam dapat memberikan pemberkatan non-sakramental dan non-liturgi kepada “pasangan yang berada dalam situasi yang tidak biasa dan tidak berhubungan dengan pernikahan, khususnya pasangan sesama jenis.”

Paus Fransiskus mengatakan kepada anggota dikasteri bahwa ia ingin menyampaikan dua poin mengenai dokumen tersebut.

Pertama – “berkat ini, di luar konteks dan bentuk liturgi apa pun, tidak memerlukan kesempurnaan moral untuk diterima.”

Kedua – “ketika pasangan secara spontan mendekat untuk meminta berkat, yang diberkati bukan pasangannya, tapi hanya orang-orang yang membuat permintaan bersama. Bukan pasangannya, tapi orang-orangnya, dengan mempertimbangkan, tentu saja, konteksnya, sensitivitasnya, tempat tinggalnya, dan cara paling tepat untuk melakukannya.”

Pada awal Januari, Kardinal Víctor Manuel Fernández, prefek dikasteri tersebut, mengeluarkan catatan yang mengklarifikasi bahwa “kehati-hatian dan perhatian terhadap konteks gerejawi dan budaya lokal dapat memungkinkan adanya metode penerapan yang berbeda” dari dokumen “Fiducia Supplicans”.

Dalam pidatonya di hadapan para anggota dikasteri, Paus Fransiskus juga menyebutkan sebuah dokumen tentang martabat manusia yang sedang dikerjakan oleh dikasteri tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Spanyol, EFE, pada 13 Januari, Kardinal Fernández mengatakan, “Kami sedang mempersiapkan dokumen yang sangat penting mengenai martabat manusia yang tidak hanya mencakup isu-isu sosial, tetapi juga kritik keras terhadap isu-isu moral termasuk perubahan jenis kelamin,  ideologi gender, dll.”

“Sebagai umat Kristen, kita tidak boleh lelah untuk menekankan keutamaan pribadi manusia dan membela martabatnya di luar segala keadaan,” kata paus, seraya menambahkan ia berharap dokumen baru ini “akan membantu kita, sebagai sebuah Gereja, untuk selalu dekat dengan semua orang, tanpa gembar-gembor, dalam kehidupan nyata sehari-hari, berjuang dan secara pribadi memperhatikan hak-hak mereka yang terabaikan.”

Paus Fransiskus memulai pidatonya dengan mengutip tugas utama dikasteri seperti yang dijelaskan dalam “Praedicate Evangelium,” yang mengatakan  tugas tersebut adalah “untuk membantu paus dan para uskup mewartakan Injil ke seluruh dunia dengan mempromosikan dan menjaga integritas umat Katolik dengan mengajarkan tentang iman dan akhlak.”

Saat Gereja bersiap merayakan Tahun Suci 2025 dan berupaya mewartakan Injil ke dunia yang terus berubah, kata paus, dikasteri harus memimpin dalam membantu Gereja “merefleksikan kembali dan dengan semangat yang lebih besar pada beberapa tema: pewartaan dan komunikasi iman di dunia masa kini, khususnya kepada generasi muda; pertobatan misionaris dari struktur gerejawi dan pekerja pastoral; budaya perkotaan baru dengan banyak tantangannya namun juga pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang makna; dan khususnya, sentralitas kerygma dalam kehidupan dan misi Gereja.”

Dalam ensikliknya tahun 2013, “Evangelii Gaudium,” Paus Fransiskus merangkum “kerygma” sebagai pesan: “Yesus Kristus mengasihi Anda; Dia memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan Anda; dan sekarang Dia hidup di sisi Anda setiap hari untuk mencerahkan, menguatkan, dan membebaskan Anda.”

“Bagi kita, hal yang paling penting, paling indah, paling menarik dan, pada saat yang sama, paling urgen, adalah iman kepada Kristus Yesus,” kata paus.

“Kita semua bersama-sama akan dengan sungguh-sungguh memperbaruinya pada tahun Yubileum dan masing-masing dari kita dipanggil untuk mewartakannya kepada setiap pria dan wanita di bumi.”

Sumber: Blessings are signs of churchs closeness: pope

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi