UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik butuh pembinaan liturgi yang lebih baik, kata pakar liturgi

Pebruari 1, 2024

Umat Katolik butuh pembinaan liturgi yang lebih baik, kata pakar liturgi

Seorang umat Katolik menerima Komuni Kudus pada Jumat Agung di Gereja Santo Petrus di Mabima, di pinggiran Kolombo pada 7 April 2023. (Foto: AFP)

 

Umat Katolik perlu mengetahui arti dan makna dari kata-kata dan gerak tubuh mereka saat mereka menghadiri dalam Misa, kata seorang pakar liturgi.

“Apa artinya berdiri atau berlutut? Tangan dirapatkan atau direntangkan?” Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh umat Katolik, kata Pastor Ricardo Reyes Castillo, seorang pejabat di Dikasteri Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen Vatikan, kepada Catholic News Service.

“Jika kita tidak mengetahui hal-hal ini atau kita hanya mengetahui sebagian saja di luar konteks keseluruhannya,” itu adalah tanda tidak memahami dan terlibat penuh dalam liturgi, katanya dalam wawancara akhir Januari.

Pastor Reyes mengatakan ia percaya bahwa sejak Konsili Vatikan Kedua, Gereja terlalu fokus untuk memastikan kebenaran bentuk dan teks yang digunakan dalam Misa sehingga Gereja kurang mengkomunikasikan makna Misa kepada umat beriman.

Konstitusi Konsili tentang Liturgi Suci (“Sacrosanctum Concilium”) “berbicara tentang pentingnya pengerjaan ulang teks-teks ritual, yang merupakan tugas besar, tetapi pekerjaan ini harus dilanjutkan bersamaan dengan pembinaan liturgi,” katanya.

“Pekerjaan terhadap teks-teks tersebut begitu besar sehingga formasi diperlukan,” kata Pastor Reyes. “Masalahnya adalah saat ini ketika kita menemukan teks-teks yang sangat kaya sekalipun, kita tidak benar-benar memahami maknanya.”

Kekhawatiran Pastor Reyes juga dirasakan oleh Paus Fransiskus. Pada Juni 2022, paus menerbitkan “Desiderio Desideravi” (“Saya dengan sungguh-sungguh menginginkan”), sebuah surat apostolik “tentang pembentukan liturgi umat Allah,” di mana ia mengajak seluruh Gereja “untuk menemukan kembali, menjaga dan menghayati kebenaran dan kekuatan perayaan tersebut.”

Dikasteri itu mengatakan dalam siaran persnya pada saat itu bahwa surat paus menyatukan banyak proposisi yang keluar dari sidang pleno dikasteri itu tahun 2019 tentang pembinaan liturgi umat beriman.

Imam itu mengatakan itulah sebabnya ia menulis bukunya, “The Mass Revealed,” sebagai cara yang dapat diakses untuk menanamkan iman umat Katolik dalam  Misa.

Ditulis dalam format tanya jawab dan disertai ilustrasi, buku ini tidak ditujukan untuk anak-anak, katanya, tetapi “memungkinkan semua orang memasuki keagungan Ekaristi.”

Dia mengatakan kepada CNS bahwa banyak pertanyaan dalam buku tersebut terinspirasi oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya selama periode enam bulan ketika dia sebagai imam di sebuah pusat kaum muda yang berjuang dengan isu-isu terkait penyalahgunaan narkoba.

Format buku ini bertujuan agar mudah diakses karena masyarakat saat ini terbiasa dengan “informasi dan gambar yang cepat dan terus berubah,” katanya.

“Bagi saya, Ekaristi adalah ketenangan, kekuatan, pengampunan, cahaya, harapan, pengharapan, gerakan, kejutan, dan yang terpenting adalah cinta, yang memberi makna dan warna pada segala sesuatu,” tulis Pastor Reyes dalam bagian pendahuluan buku tersebut.

Oleh karena itu, keinginan saya adalah menulis secara sederhana tentang kekaguman yang saya alami setiap kali saya merayakan Ekaristi.

Pertanyaan-pertanyaan dalam buku ini berkisar dari pertanyaan umum, seperti “Apa itu Misa?”  Elemen-elemen tertentu dalam liturgi, seperti alasan orang memberikan uang pada saat persembahan. Para tokoh utama dalam buku ini juga saling menanyakan pertanyaan yang lebih mendalam tentang hakikat dosa dan bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan Roh Kudus. Buku setebal 92 halaman ini tersedia dalam sejumlah bahasa – Inggris, Spanyol, dan Italia – tersedia secara online.

Pastor Reyes mengatakan banyak gerak yang dilakukan selama Misa memiliki makna spiritual yang mendalam yang sering kali hilang dari ingatan orang. Sebagai contoh, beliau mencontohkan bagaimana setiap Misa dimulai dan diakhiri dengan imam  mencium altar, yang menunjukkan bahwa Misa adalah tindakan memasuki hubungan cinta kasih dengan Tuhan.

Orang dewasa pun kurang memahami Misa, katanya, tidak mengherankan jika banyak orang  muda saat ini tidak mau menghadiri Misa “karena mereka tidak memahami makna dari apa yang mereka lakukan.”

“Sebagai umat Katolik saat ini, kita perlu lebih dari sebelumnya untuk menemukan makna sebenarnya di balik apa yang kita lakukan,” katanya.

Untuk itu, Pastor Reyes mengusulkan agar setiap paroki menawarkan kursus pembinaan liturgi yang singkat, sederhana, namun juga untuk orang dewasa “sama seperti anak-anak yang mengikuti katekese sebelum Komuni Pertama atau Krisma.”

Dalam masyarakat di mana minat terhadap agama semakin berkurang, katanya, evangelisasi semakin bergantung pada tindakan orang-orang yang menjadi saksi iman mereka kepada orang lain. Namun tanpa apresiasi penuh terhadap Misa, umat Katolik saat ini “tidak dapat sepenuhnya menyampaikan apa yang mereka inginkan” tentang iman mereka. Sebaliknya, mereka “mengambil risiko berbicara tanpa berkomunikasi”.

“Tugas umat Katolik saat ini bukanlah memberi tahu orang lain apa yang harus dilakukan, namun bagaimana menghidupi keyakinan mereka,” katanya. Yakni, bahwa “Ekaristi bukan sekedar sesuatu yang menyenangkan,” namun merupakan “harta terbesar yang kita miliki.”

Sumber: Catholics need better liturgical formation, expert says

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi