UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Jalan ziarah menyoroti masa awal agama Kristen di Korea

Pebruari 6, 2024

Jalan ziarah menyoroti masa awal agama Kristen di Korea

Gereja Incheon Naedong dari Gereja Anglikan Korea dibangun tahun 1890 oleh misionaris Anglikan Uskup Charles John Corfe. (Foto: Catholic Times)

 

Jalan Penghubung Laut di Gaehangjang, Incheon telah menjadi terkenal  sebagai “Jalan Ziarah Sejarah dan Budaya” berkat berbagai situs warisan berusia seabad yang berkaitan dengan masa awal agama Kristen di Korea.

Sepanjang tahun, para peziarah dan wisatawan dari dalam dan luar negeri berkumpul di jalan itu untuk mengunjungi monumen, termasuk situs-situs di mana para biarawati misionaris Katolik pertama tiba tahun 1885, katedral Anglikan dan gereja Metodis pertama di Korea, serta  katedral Katolik pertama di Incheon yang dikenal sebagai Katedral Dapdong.

Selama Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani pada 18-25 Januari ketika umat Kristiani di seluruh dunia berdoa bagi persatuan mereka, banyak orang turun ke jalan-jalan untuk mengunjungi gereja-gereja dan situs-situs bersejarah umat Kristiani.

Sebuah monumen yang dipersembahkan untuk empat biarawati misionaris (dua orang Prancis dan dua orang China) dari Kongregasi Suster-suster St. Paul dari Chartres (SPC) dibangun di depan Kantor Polisi Pusat Incheon.

Para biarawati Katolik ini  tiba di Incheon pada 22 Juli 1888, lima tahun setelah pembukaan Pelabuhan Jemulpo. Kedatangan mereka menandai awal baru kehidupan agama Katolik ketika Korea berada di bawah kekuasaan dinasti Joseon yang telah lama berkuasa (1392-1910).

Situs ini adalah rumah bagi patung perunggu karya pematung terkenal Korea Joseph Choi Jong-tae yang menggambarkan para biarawati misionaris yang turun dari kapal. Sebuah doa: “Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar” juga terlukis di atasnya, mengingatkan catatan dari  perjalanan salah satu biarawati perintis, Suster Zacharias.

Sekitar 200 meter dari monumen para biarawati berdiri sebuah Monumen  Peringatan 100 Tahun Kekristenan Korea, yang memperingati semangat para misionaris Protestan yang pertama kali menginjakkan kaki di Incheon  tahun 1885.

Menyeberangi jalan utama dari monumen itu adalah Gaehangjang Nuri-gil (Jalan Terbuka untuk Dunia). Di pintu masuk terdapat Tempat Doa Martir Jemuljindu dari Keuskupan Incheon dan Katedral Haean, yang dibangun tahun 1966 untuk umat Katolik di Chinatown.

Kawasan ini merupakan lokasi konsesi antara Jepang dan China pada saat pelabuhan dibuka.

Di satu sisi, kawasan ini memiliki sejarah yang menyakitkan sebagai medan pertempuran antara kekuatan-kekuatan besar, dan di sisi lain, ia adalah museum sejarah modern tanpa atap. Chinatown berada di sebelahnya.

Melewati Daebul Hotel Exhibition Hall, orang bisa menemukan sebuah hotel bersejarah dengan gaya Barat pertama di Korea, terdapat Incheon Modern Museum dan Sinpo International Market Street.

Mendaki lereng curam di tengah Gunung Eungbongsan, sebuah katedral yang mengingatkan pada bangunan Eropa abad pertengahan mulai terlihat. Ini adalah gereja Incheon Naedong dari gereja Anglikan Korea. Tahun 1890, Uskup Charles John Corfe, seorang misionaris Anglikan, membangun katedral Anglikan pertama di Korea.

Rumah Sakit Santo Lukas bergaya modern pertama di Incheon, yang didirikan oleh Dr. Eli Barr Landis, seorang misionaris medis dari Amerika Serikat, juga dibangun tidak lama kemudian.

Rumah sakit itu dibangun kembali tahun 1956, segera setelah berakhirnya Perang Korea, dengan sumbangan dari para veteran Inggris dan keluarga yang berduka. Rumah sakit pertama hancur selama perang.

Taman bunga di halaman rumah sakit berdiri sebuah monumen yang didedikasikan untuk Dr. Landis dan Uskup Corfe dengan patung mereka.

Di bawah perbukitan Incheon, kita dapat menemukan gereja Incheon Naeri, gereja Metodis pertama di Korea. Gereja ini didirikan oleh Pendeta Henry G. Appenzeller dari American Methodist Mission yang mendarat di pelabuhan Jemulpo tahun 1885.

Gereja ini dibangun kembali tahun 1985, pada peringatan 100 tahun pendiriannya.

Di pintu masuk gereja terdapat patung dari Pendeta Appenzeller, Pendeta George H. Jones (pendeta kedua), dan Pendeta Kim Ki-beom. Pendeta pertama tidak hanya di gereja Metodis Korea tetapi juga di gereja Protestan Korea. Bangunan gereja Jemulpo Wesleyan yang telah dipugar, gereja  Protestan bergaya Barat pertama di Incheon, juga terletak di sebelah gereja tersebut.

Sekitar 5 menit berjalan kaki dari gereja Metodis Naeri berdiri sebuah katedral indah di atas bukit.

Katedral Dapdong adalah katedral Katolik pertama di Incheon. Tahun 1889, Pastor J. Wilhelm dari Serikat Misi Asing Paris (MEP) menjadi pastor paroki berpusat di gereja tersebut dan meletakkan fondasi katedral.

Belakangan, sebuah bangunan bergaya Gotik dibangun tahun 1897, dirancang oleh Pastor E. Coste. Katedral saat ini diubah menjadi gaya Romawi dengan banyak lengkungan ketika pekerjaan rekonstruksi selesai tahun 1937 untuk membangun bagian luar bangunan yang ada dengan batu.

Tiga menara lonceng di bagian depan semakin meningkatkan kesan ketinggian vertikal bangunan itu. Ini adalah salah satu bangunan modern bergaya Barat tertua di antara katedral domestik dan merupakan Situs Warisan Budaya Nasional.

Di sebelah katedral juga terdapat Museum Sejarah Keuskupan Incheon yang dibuka tahun 2021 di rumah uskup tua yang telah direnovasi. Museum sejarah juga memamerkan  baptisan orang Jepang dan China yang tinggal di wilayah konsesi di Katedral Dapdong.

Berdiri di halaman katedral, sekilas kita bisa melihat seluruh area Gunung Eungbongsan di bagian barat Incheon yang menyimpan kenangan para misionaris yang tiba di negeri asing untuk memberitakan Kabar Baik kepada masyarakat Korea.

Sumber: Pilgrimage street resonates early days of christianity in Korea

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi