UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Serangan udara junta Myanmar terhadap sekolah menewaskan 4 anak

Pebruari 7, 2024

Serangan udara junta Myanmar terhadap sekolah menewaskan 4 anak

Foto yang diambil pada 29 Oktober 2023 ini menunjukkan anak-anak berdoa di gereja sementara di kamp pengungsi di kotapraja Demoso di Negara Bagian Kayah, Myanmar. (Foto: AFP)

 

Empat anak tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam serangan udara junta terhadap sebuah sekolah di Myanmar yang dilanda perang saudara pada 5 Februari, menurut sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM).

Sekolah Daw Saw Ei di Kota Demoso di Negara Bagian Kayah terkena beberapa bom yang menyebabkan empat anak laki-laki berusia 12-14 tahun tewas dan sedikitnya 15 anak lainnya terluka, kata Kelompok HAM Karen (KHRG) yang berbasis di Thailand, yang aktif di Negara Bagian Kayah, yang memiliki populasi Kristen yang signifikan.

Dalam serangan lain yang terjadi pada 5 Februari yang berjarak tiga kilometer di Desa Loi Nan Pha, satu orang tewas dan tujuh lainnya, termasuk lima anak terluka, kata kelompok HAM.

Sebuah gereja di desa itu dan lima rumah juga rusak dalam serangan itu, menurut Free Burma Rangers, sebuah kelompok kemanusiaan yang memberikan bantuan medis di Negara Bagian Kayah.

Namun media yang berafiliasi dengan Junta membantah menyerang Kota Demoso pada 5 Februari.

“Meningkatnya serangan terhadap sekolah ini merupakan indikasi pengabaian militer terhadap nyawa anak-anak yang tidak bersalah,” kata KHRG dalam sebuah pernyataan pada 5 Februari.

Sejak penggulingan pemerintahan sipil Aung San Suu Ky pada Februari 2021, setidaknya 52 sekolah menjadi sasaran serangan udara dan 199 sekolah rusak karena alasan lain, kata Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar di pengasingan dalam pernyataan pada 6 Februari.

Pada September 2022, 11 pelajar tewas dalam serangan di wilayah Sagaing yang dikecam oleh Paus Fransiskus.

“Menargetkan sekolah dan tempat ibadah serta membunuh anak-anak adalah tindakan tidak manusiawi,” kata Pemerintah Persatuan Nasional, yang terdiri dari mantan anggota parlemen dan anggota kelompok etnis dalam pernyataannya.

Militer Myanmar secara terang-terangan melakukan “kejahatan perang yang brutal,” tambahnya.

Sementara itu, sembilan anggota Dewan Keamanan PBB, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, mengecam apa yang mereka sebut sebagai serangan udara brutal yang dilakukan militer Myanmar terhadap warga sipil dalam pertemuan tertutup mengenai krisis Myanmar pada 5 Februari.

Negara Bagian Kayah yang bergunung-gunung di bagian timur menyaksikan pertempuran antara militer dan kelompok pemberontak etnis yang mencakup umat Kristen di bawah Pasukan Pertahanan Rakyat yang baru dibentuk.

Lebih dari 40.000 dari sekitar 50.000 orang di ibu kota Loikaw telah meninggalkan rumah mereka akibat serangan udara Junta dan tembakan artileri setelah pemberontak merebut kota penting yang strategis itu pada November.

Hampir 26 dari 41 paroki di Keuskupan Loikaw telah ditinggalkan, menurut sumber-sumber Gereja.

Kelompok bantuan mengatakan Negara Bagian Kayah memiliki sekitar 250.000 pengungsi yang berlindung di 200 kamp.

Sekitar 80.000 dari mereka ditempatkan di kamp-kamp yang dikelola Gereja.

Umat Kristen merupakan 46 persen dari 350.000 penduduk Negara Bagian Kayah. Sekitar 90.000 orang beragama Katolik.

Pada 31 Januari, junta memperpanjang masa darurat selama enam bulan lagi, sehingga menunda pemilu yang dijanjikan di negara Asia Tenggara tersebut.

Ketua Junta Min Aung Hlaing mengatakan perpanjangan waktu itu diperlukan “untuk membawa negara ini ke keadaan normal yang stabil dan damai.”

Umat Kristiani berjumlah hampir 6 persen dari 54 juta penduduk Myanmar, sebagian besar beragama Buddha.

Sumber: Myanmar-airstrike-on-school-in-kayah-state-kills-4-children

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi