UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Sinode tentang Sinodalitas adalah proses menjadi Gereja yang ‘lebih baik’

Pebruari 7, 2024

Sinode tentang Sinodalitas adalah proses  menjadi Gereja yang ‘lebih baik’

Julia Oseka, seorang mahasiswi dari Universitas St. Joseph di Philadelphia yang merupakan delegasi AS untuk Sinode tentang Sinodalitas pada Oktober tahun lalu di Vatikan,  berbicara pada sesi 4 Februari 2024 dalam pertemuan tahunan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik AS di Washington. Bergabung dengannya di panggung di sebelah kiri adalah Kathy Wilson Humphrey, rektor Universitas Carlow yang dikelola Katolik di Pittsburgh, dan Kardinal Wilton D. Gregory dari Washington. (Foto: Mihoko Owada, Catholic Standard)

 

Sinode tentang Sinodalitas pada dasarnya adalah sebuah proses menjadi Gereja yang lebih baik, kata Kardinal Wilton D. Gregory dari Washington pada pertemuan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Amerika Serikat (AS) pada 4 Februari.

Sinode ini diperlukan, kata kardinal, “karena, sejujurnya, ada saat-saat ketika Gereja di zaman modern kita tidak jujur, tidak ramah, dan tidak belas kasihan.”

Dalam sesi pleno tentang sinode yang sedang berlangsung selama pertemuan tahunan asosiasi itu di Washington, Kardinal Gregory mengatakan “sinode tentang sinodelitas ini sebenarnya adalah paus yang bertanya kepada kita bagaimana kita dapat memeriksa kembali pertemuan-pertemuan Gereja, pelayanan, administrasi, paroki dan bahkan pendidikan kita sehingga kita dapat menjadi Gereja yang ‘lebih baik’.”

Itu berarti berfokus pada bagaimana umat Katolik dapat menjalankan misi Gereja “secara lebih penuh dan otentik dengan berfokus pada Kristus dan cinta serta belas kasihan-Nya bagi setiap orang,” kata kardinal tersebut.

“Kita perlu berbicara satu sama lain – bersama-sama, secara tatap muka, dan dalam kelompok kecil – dengan penekanan pada Kristus dan evangelisasi, daripada tetap berada dalam ‘mode pemeliharaan’, di mana kita mengadakan sebuah pertemuan bersama,” katanya.

Sesi pleno juga mencakup sambutan dan komentar dari Julia Oseka, salah satu delegasi AS lainnya pada sinode itu, bersama dengan Kardinal Gregory. Oseka adalah mahasiswa Universitas St. Joseph di Philadelphia dan peserta aktif di berbagai pelayanan kampus.

Kardinal Gregory menjelaskan hingga saat ini, sinode Gereja modern hanya diperuntukkan bagi para uskup.

Untuk sinode ini, yang berlanjut hingga musim gugur ini, Paus Fransiskus mengundang “seluruh umat Allah” bergabung dengan para uskup, termasuk para religius dan awam, baik perempuan maupun pria, bahkan di tingkat paling lokal, kata kardinal.

Vatikan mengumumkan pada 3 Februari bahwa 300 pastor paroki dari seluruh dunia akan diundang ke Roma pada April untuk menyumbangkan pengalaman kehidupan paroki mereka ke dalam proses sinode. Lebih dari 400 orang berpartisipasi dalam pertemuan sinode pertama yang diadakan di Vatikan pada Oktober.

Kardinal Gregory mengatakan dia telah berpartisipasi dalam banyak sinode selama 40 tahun menjadi uskup.

“Salah satu dari banyak aspek luar biasa dari sinode ini adalah bertemu dengan orang-orang yang mewakili umat beriman global. Kami berbicara dalam bahasa yang berbeda, usia yang berbeda, dan berasal dari komunitas dan budaya yang berbeda, namun kita adalah satu keluarga Katolik!” kata kardinal.

Dia menjelaskan para peserta duduk di meja bundar dengan teman satu meja yang sama selama sepekan, dan Paus Fransiskus berpartisipasi dengan cara yang sama.

“Rehat kopi di Roma yang terkenal” adalah waktu favorit yang dikutip oleh Kardinal Gregory dan Oseka, karena memberikan para delegasi kesempatan untuk belajar tentang satu sama lain, seperti kata kardinal, memberikan “sekilas tentang siapa kita sebagai umat Katolik.”

Dia menggambarkan percakapannya dengan para uskup yang mengajarinya tentang tantangan yang dihadapi Gereja di beberapa negara Afrika di mana poligami merupakan hal yang lazim.

Oseka, seorang imigran Polandia, mengatakan dia tidak mengerti sampai diskusi tersebut betapa berbedanya perspektif Katolik yang berbasis budaya Barat dan apa yang dialami orang lain.

Kardinal Gregory mengatakan sinode itu memberinya “sebuah pengalaman menggereja yang membawa saya kembali ke masa Perjanjian Baru. Ini mencerminkan cara Gereja perdana dalam memecahkan masalah.”

Ia juga mengatakan ia terkesan dengan cara para delegasi bisa berbeda pendapat satu sama lain, namun tidak pernah mengurangi nilai orang lain atau menghilangkan rasa kemanusiaan mereka.

Baik Oseka maupun Kardinal Gregory mengatakan mereka menghilangkan aspirasi untuk memupuk pertemuan informal antargenerasi dan multikultural yang mereka alami di sinode di dalam negeri.

“Saya sangat ingin melihat pertemuan konsultasi di universitas,” kata Oseka.

Salah satu pertanyaan dari hadirin dimulai dengan pengamatan bahwa beberapa orang mengkritik sinode tersebut karena kurang memiliki kedalaman teologis dan mengatakan  sinode tersebut secara tidak tepat menjauhi tradisi.

Oseka, yang merupakan sarjana ganda jurusan fisika dan teologi, mengatakan dia “adalah salah satu dari mereka yang tidak memiliki latar belakang teologi,” namun para teolog dan pakar hukum kanonik siap membantu para delegasi jika diperlukan.

“Ketika Anda berbicara tentang masalah tradisi… tradisi Gereja itu kaya dan luas,” kata Kardinal Gregory.

“Saya suka menggunakan dua contoh (St.) Aquinas dan (St.)Bonaventura. Mereka saling berhadapan tetapi keduanya berasal dari jantung Gereja. Mereka berdua adalah orang kudus, dan mereka mungkin masih berdebat.”

“Saya rasa terkadang orang menggunakan istilah tradisi sebagai kontrol,” lanjutnya. “Ini saatnya kita harus setia pada tradisi Gereja, apa yang kita yakini, apa yang kita pegang, apa kewenangan wahyu, dan sebagainya.”

Sumber: Synod on synodality is process for becoming a better church

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi