UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Tahun Baru Imlek dan Prapaskah bisa berjalan bersamaan, kata uskup

Pebruari 8, 2024

Tahun Baru Imlek dan Prapaskah bisa berjalan bersamaan, kata uskup

Umat Katolik di China bernyanyi dalam Misa di sebuah gereja Katolik di Tianjin, di China utara pada 24 Mei 2015. (Foto: AFP)

 

Seorang uskup Katolik di China mendesak umat beriman untuk menghilangkan kontradiksi antara perayaan Tahun Baru Imlek dan masa Prapaskah yang bertepatan dengan masa pertobatan melalui visi Kristiani yang unik, kata sebuah laporan.

Dalam Surat Gembala Prapaskah 2024, Uskup Agung Guangzhou Mgr. Joseph Gan Junqiu, menyamakan kedua peristiwa tersebut dengan mengatakan kedua peristiwa tersebut dapat berjalan beriringan, lapor Fides, sebuah layanan berita Vatikan pada 7 Februari.

Dalam surat pastoralnya yang bertajuk “Ya Tuhan, ciptakanlah dalam diriku hati yang murni,” kata Uskup Agung Gan bahwa “segala tindakan yang dimotivasi oleh niat untuk mencintai pada akhirnya diarahkan kepada Tuhan.”

Sementara perayaan Tahun Baru Imlek menandai kembalinya orang-orang ke rumah mereka, Liturgi Abu yang diadakan pada Rabu Abu adalah “panggilan dari Bapa Yang Kekal… untuk kembali ke rumah,” kata Uskup Agung Gan.

Perayaan Tahun Baru Imlek akan dimulai pada 10 Februari, dan masa Prapaskah bagi umat Katolik akan dimulai pada 14 Februari dengan Rabu Abu.

Tahun Baru Imlek adalah festival tahunan selama 15 hari di China dan komunitas China di seluruh dunia yang dimulai dengan bulan baru yang terjadi dari 21 Januar hingga 20 Februari menurut kalender Barat.

Perayaan biasanya berlangsung hingga bulan purnama berikutnya.

Sejak pertengahan tahun 1990-an, masyarakat China diberi libur kerja selama tujuh hari berturut-turut selama Tahun Baru Imlek.

Minggu relaksasi ini ditetapkan sebagai Festival Musim Semi, istilah yang terkadang digunakan untuk menyebut Tahun Baru Imlek secara umum.

Musim liburan juga merupakan waktu berkumpulnya keluarga ketika banyak orang kembali ke kampung halamannya untuk bertemu dengan sanak saudaranya.

Uskup Agung Gan menunjukkan kedua peristiwa yang terjadi bersamaan tersebut merupakan seruan untuk mengucapkan, “selamat tinggal pada masa lalu.”

Sementara perayaan Tahun Baru itu menyerukan “perpisahan dengan masa lalu untuk menyambut masa depan,” perjalanan umat Kristiani selama masa Prapaskah mencari pengampunan dan pertobatan atas dosa-dosa seseorang juga merupakan “perpisahan dengan masa lalu,” katanya.

Dalam pengalaman seperti itu, “kita menjadi penuh sukacita dan harapan hidup, kita dijadikan baru oleh kasih Kristus, dalam kasih karunia Tuhan,” tambah prelatus itu.

Masa Prapaskah adalah “masa persiapan menyambut sukacita Paskah,” kata Uskup Agung Gan, seraya menekankan Tahun Baru Imlek adalah kesempatan yang sangat baik bagi umat beriman untuk memberikan kesaksian tentang iman Katolik bersama keluarga mereka.

Prelatus itu mendesak umat beriman untuk menghadiri Misa Syukuran pada Malam Tahun Baru Imlek bersama keluarga mereka.

Ia menekankan  seluruh keluarga dapat “bersatu untuk bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan dan berkat-Nya selama satu tahun terakhir,” dan memohon berkat Tuhan untuk kedamaian dan kesehatan anggota keluarga serta pekerjaan mereka.

“Dengan berdoa dan menerima sakramen bersama orang-orang yang kita kasihi, kita juga dapat menyambut, sebagai rasa syukur kepada Yesus, suasana Tahun Baru Imlek yang meriah dan penuh syukur,” tambah prelatus itu.

Prelatus itu juga mendesak umat beriman untuk menghargai keunikan iman Katolik sambil tetap menyelami budaya tradisional mereka.

“Kami dapat menunjukkan bahwa iman Kristen adalah anugerah yang selalu ada di hati kita, apa pun yang terjadi,” tambahnya.

Prelatus itu menghimbau umat beriman untuk berdoa, membaca, dan merenungkan Sabda Allah, serta menjaga sesama mereka selama perayaan Tahun Baru.

Prelatus tersebut menegaskan Tahun Baru Imlek adalah “waktu yang baik untuk peduli terhadap orang lain, dimulai dengan orang lansia, orang sakit, orang yang kesepian, dan mereka yang berada dalam kesulitan.”

“Kita dapat merasakan berkat dan kedamaian Tuhan selama [Festival Musim Semi] dengan menghabiskan waktu bersama keluarga kita, berdoa dalam persekutuan, dan peduli terhadap orang lain,” katanya.

Sumber:  Chinese new year and lent can go together, says bishop

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi