UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kekuatan kreatif harus digunakan secara bertanggung jawab, kata paus

Pebruari 13, 2024

Kekuatan kreatif harus digunakan secara bertanggung jawab, kata paus

Paus Fransiskus (kanan) mendengarkan Uskup Agung Vincenzo Paglia saat audiensi dengan para peserta konferensi Akademi Kepausan untuk Kehidupan pada 5 Oktober 2017, di Vatikan. (Foto: AFP)

 

Kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang merupakan produk kreativitas manusia, berkembang pesat sehingga manusia harus memutuskan bagaimana menggunakan kreativitas mereka secara bertanggung jawab, kata Paus Fransiskus.

“Dengan kata lain, bagaimana kita dapat menginvestasikan bakat-bakat yang telah kita terima sambil mencegah penodaan terhadap kemanusiaan dan penghapusan perbedaan-perbedaan konstitutif yang memberi keteraturan pada kosmos,” katanya kepada para anggota Akademi Kepausan untuk Kehidupan.

Paus bertemu dengan para anggota  di Vatikan pada 12 Februari saat mereka merayakan ulang tahun ke-30 akademi tersebut. Mereka mengadakan konferensi di Roma pada 12-13 Februari, dengan fokus pada makna menjadi manusia.

Memahami apa yang membedakan manusia adalah pertanyaan yang “paling penting,” kata paus. Meskipun ini merupakan pertanyaan kuno, teknologi saat ini menantang masyarakat untuk memikirkan pertanyaan ini dengan cara yang semakin kompleks.

“Peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membuat manusia melihat diri mereka terlibat dalam tindakan kreatif yang mirip dengan Tuhan, menghasilkan gambar dan kemiripan dengan kehidupan manusia, termasuk kemampuan bahasa yang dapat digunakan sebagai ‘mesin berbicara’,” katanya.

Godaan untuk “memasukkan” sejenis roh ke dalam benda mati “adalah hal yang berbahaya,” katanya. “Apa yang diminta dari kita adalah melihat bagaimana kreativitas yang dipercayakan kepada manusia dapat dilaksanakan secara bertanggung jawab.”

Ini bukan soal mendukung atau menentang alat dan teknologi, katanya. “Yang diperlukan adalah menempatkan pengetahuan ilmiah dan teknologi dalam cakrawala makna yang lebih luas,” yaitu pendekatan antropologis dan budaya.

“Kita ditantang mengembangkan budaya, dengan mengintegrasikan sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu mengakui dan memajukan umat manusia dalam kekhususannya yang tidak dapat direduksi,” kata paus.

Paus memuji metode sinode akademi itu yang terbuka untuk mengeksplorasi dan mendiskusikan secara bebas topik-topik yang penting bagi misi akademi.

“Bagi mereka yang berkomitmen terhadap pembaruan pemikiran yang serius dan injili, penting mempertanyakan pendapat dan asumsi yang sudah mapan yang belum diperiksa secara kritis,” katanya.

Uskup Agung Vincenzo Paglia, ketua akademi itu, mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers di Vatikan pada 12 Februari bahwa mereka mempertemukan para ilmuwan dan pakar dari berbagai bidang, termasuk studi alkitabiah, teologi, bioteknologi dan ekonomi, untuk membahas pentingnya komunitas kemanusiaan.

Hal ini sejalan dengan permintaan tertulis paus kepada akademi tersebut tahun 2019, katanya, yaitu memulihkan “cakrawala humanistik” yang lebih luas melalui “mendengarkan secara bertanggung jawab” dan refleksi sebagai respons terhadap “paradoks kemajuan” saat ini yang dialami umat manusia dan pengetahuan yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia, namun malah memperburuk perpecahan, kesenjangan dan konflik.

Karena ini adalah akademi dan bukan dikasteri yang berkaitan dengan masalah doktrinal, kata uskup agung, tugasnya adalah melakukan dialog “dengan para ilmuwan dari berbagai budaya dan disiplin ilmu untuk mengkaji topik ini sehingga menawarkan perspektif kepada semua orang” yang diambil dari umat manusia secara keseluruhan.

Mariana Mazzucato, anggota akademi itu dan profesor ekonomi inovasi di University College London, mengatakan pembicaraannya di pertemuan tersebut  fokus pada perlunya perencanaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah kemanusiaan, yang merupakan masalah global.

“Tidak ada perekonomian yang membawa kebaikan bersama,” katanya, jadi “kecuali perekonomian berubah maka mustahil mencapai tujuan kolektif ini” di semua bidang, termasuk kesehatan, iklim, keanekaragaman hayati, dan air bersih.

Penting juga untuk “berinvestasi pada otak” dan pola pikir masyarakat dalam pelayanan publik, katanya, sehingga mereka bersedia dan mampu bekerja sama dengan baik dengan Gereja Katolik, sektor swasta dan kelompok lain.

“Kecerdasan kolektif di setiap tingkat” seperti inilah yang diperlukan untuk menghadapi tantangan terbesar saat ini,” katanya

Jim Al-Khalili, fisikawan kuantum di Fakultas Matematika dan Fisika Universitas Surrey di Inggris, mengatakan kemajuan teknologi telah “membuat hidup kita lebih mudah… dan kita beradaptasi dengan mereka dengan sangat cepat… begitu cepat sehingga kita dengan cepat lupakan seperti apa dunia sebelum mereka.”

Namun, ada “ancaman nyata,” katanya. Manusia harus bersiap menghadapi hari ketika “mesin bisa mengembangkan kecerdasan sejati” dan bahkan kesadaran “sama seperti kita harus bersiap menghadapi hari ketika kita mungkin menemukan kehidupan di luar Bumi. Namun, semua ini tidak akan menimbulkan krisis identitas,” katanya.

Dia mengatakan dia tidak percaya kecerdasan buatan akan berpikir atau merasa seperti manusia.

“Saya yakin, apa yang membuat kita menjadi manusia yang unik juga terletak pada perilaku kita, interaksi kita dengan lingkungan fisik, hubungan kita satu sama lain dalam struktur kolektif dan masyarakat yang kompleks, budaya dan kepercayaan kita bersama, sejarah kita, ingatan kita. Jangan dilihat sebagai ancaman,” katanya.

Sumber: Creative power must be used responsibly, pope says

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi