UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Myanmar desak umat Kristiani menemukan harapan dalam penderitaan

April 3, 2024

Uskup Myanmar desak umat Kristiani menemukan harapan dalam penderitaan

Uskup Loikaw Mgr. Celso Ba Shwe di Negara Bagian Kayah, Myanmar terlihat dalam foto ini. (Foto: Keuskupan Liokaw)

 

Perayaan Paskah yang memperingati kebangkitan Yesus mendorong umat Kristiani di Myanmar untuk berpegang teguh pada harapan meskipun mereka menderita kekejaman, kelaparan dan kematian di tengah konflik yang sedang berlangsung, kata Uskup Loikaw Mgr. Celso Ba Shwe dalam pesan Paskahnya.

“Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa kita bukanlah umat Jumat Agung, melainkan umat Paskah. Paskah adalah alasan kegembiraan kita, dan kita adalah Orang-orang Paskah,” kata Uskup Shwe, 59.

Uskup itu terpaksa meninggalkan katedral dan kediaman resminya di ibu kota Negara Bagian Kayah yang dilanda konflik pada November lalu akibat pengambilalihan junta militer.

“Mari kita temukan Tuhan Yang Bangkit dalam diri saudara dan saudari kita yang menderita kehilangan anggota keluarga, kehancuran rumah dan harta benda, yang kelaparan, dan yang setiap hari mengalami ketidakamanan dan ketidakpastian akibat kekejaman dan kejahatan manusia,” katanya dalam pesan yang dirilis pada 31 Maret.

“Melalui kuasa dan kasih Tuhan Yang Bangkit, kita akan bangkit kembali dari abu reruntuhan dan hantaman ketidakadilan serta membangun Yerusalem baru!” katanya.

Uskup itu menegaskan bahwa kerinduan kita yang terbesar dan terkuat saat ini hanyalah “kehidupan yang lebih tinggi, kehidupan yang damai sejati, PERDAMAIAN yang sempurna dan abadi yang dapat dianugerahkan oleh Yesus yang Bangkit.”

Uskup Shwe awalnya melarikan diri ke Negara Bagian Shan untuk menghindari kekejaman militer. Dia saat ini tinggal di paroki Sondu di Demoso, dekat kota Loikaw, yang merupakan rumah bagi ribuan pengungsi yang tinggal di kamp-kamp yang dikelola Gereja.

Sejak diusir, Uskup Shwe tidak bisa merayakan Natal dan Paskah di katedralnya seperti yang diwajibkan oleh hukum Kanonik.

Dia telah mengunjungi berbagai kamp yang menampung ratusan umat Kristen dan lainnya yang melarikan diri dari pertempuran mematikan antara pasukan junta militer dan kelompok pemberontak etnis.

Sejak November lalu, sekitar 40.000 dari sekitar 50.000 penduduk di kota Loikaw, telah meninggalkan rumah-rumah mereka setelah militer melancarkan serangan yang mencakup serangan udara dan penembakan terhadap pemberontak Karen yang berjuang mengambil kendali kota Loikaw yang penting dan strategis dari pasukan junta.

Kebanyakan orang atau sekitar 250.000 orang di Negara Bagian Kayah telah mengungsi akibat konflik sejak kudeta pada Februari 2021 dan semuanya masih berada di kamp-kamp, kata kelompok bantuan. Mereka kini tinggal di sekitar 200 kamp, dengan sedikitnya 80.000 orang ditampung di kamp-kamp yang dikelola Gereja.

Serangan udara militer dan penembakan artileri terus membunuh warga sipil dan menghancurkan properti, kata kelompok hak asasi manusia (HAM).

Setidaknya 10 warga sipil tewas, 28 orang terluka dan lebih dari 100 properti termasuk 50 rumah warga sipil rusak akibat serangan militer di Loikaw dan Demoso di Negara Bagian Kayah pada Maret, menurut Kelompok HAM Karen.

Sejauh ini, 12 gereja terkena serangan militer di Keuskupan Loikaw. Setidaknya 31 dari 41 paroki hampir kosong karena ribuan umat Katolik mengungsi untuk menghindari pertempuran.

Umat Kristen merupakan 46 persen dari 350.000 penduduk Negara Bagian Kayah, termasuk sekitar 90.000 umat Katolik.

Sumber: Myanmar bishop urges christians to find hope in suffering

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi