UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Parolin positif terkait pembaruan kesepakatan Sino-Vatikan

Mei 23, 2024

Kardinal Parolin positif terkait pembaruan kesepakatan Sino-Vatikan

Kardinal Pietro Parolin berbicara pada KTT iklim PBB di Dubai pada 2 Desember 2023. Menteri Sekretaris Negara Vatikan berperan penting dalam kesepakatan rahasia Sino-Vatikan tahun 2018. (Foto: AFP)

 

Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin mengatakan bahwa semua pihak tertarik dengan pembaruan kesepakatan Sino-Vatikan 2018 dan menyatakan harapan mengembangkan hubungan lebih lanjut dengan negara komunis tersebut.

Kardinal Parolin memberikan sambutannya di sela-sela konferensi internasional bertema “100 tahun sejak Concilium Sinense,” yang diselenggarakan oleh Universitas Kepausan Urbaniana di Roma, demikian yang dilaporkan Vatican News pada 21 Mei.

Konferensi tersebut, yang diselenggarakan bekerja sama dengan layanan berita misionaris Vatikan, Fides, dan Komisi Pastoral untuk China, adalah untuk memperingati Sinode Gereja Katolik pertama dan sejauh ini satu-satunya di Sinode yang diadakan tahun 1924.

Sinode Shanghai telah menegaskan perlunya misionaris asing di China untuk memberi jalan kepada para pemimpin Gereja lokal.

“Kami semua tertarik untuk memperbarui [perjanjian] dan juga mengembangkan beberapa poin,” kata Kardinal Parolin, merujuk pada perjanjian rahasia Vatikan-China mengenai penunjukan uskup yang akan diperbarui pada Oktober 2024.

Kardinal Parolin mengungkapkan harapannya bahwa Gereja Katolik akan memiliki “kehadiran yang stabil di China.”

“Bahkan jika pada awalnya, hal ini mungkin tidak berbentuk perwakilan kepausan atau nunsiatur apostolik, namun hal ini masih dapat meningkatkan dan memperdalam hubungan kami. Ini tujuan kami,” tegas Kardinal Parolin.

Konferensi ini dihadiri antara lain oleh Uskup Shanghai Mgr. Joseph Shen Bin dan Zheng Xiaoyun, ketua Institut Agama-Agama Dunia di Akademi Ilmu Sosial China.

Profesor Elisa Giunipero, dosen Sejarah China di Universitas Katolik Milan, dan Profesor Vincenzo Buonomo, delegasi kepausan di Universitas Kepausan Urbaniana, juga berpartisipasi dalam konferensi tersebut.

Kardinal Parolin juga memuji upaya Uskup Agung Celso Costantini, delegasi apostolik pertama ke China, yang menyelenggarakan Sinode di China.

“Costantini melihat pentingnya peralihan dari konsep ‘misi luar negeri’ ke konsep ‘Gereja misionaris’, dan mendukung pentahbisan enam uskup pertama di China tahun 1926,” kata Kardinal Parolin.

Kabarnya, Costantini mendirikan Kongregasi Murid-murid Tuhan tahun 1927 dan mempromosikan bentuk seni dan arsitektur China, “yang melaluinya inkulturasi iman Katolik dapat terwujud lebih jauh.”

Kardinal Parolin menekankan bahwa upaya akan dilakukan untuk “membangun Gereja di China menjadi Gereja yang kudus dan Katolik yang sesuai dengan kehendak Tuhan, menerima warisan budaya tradisional China yang sangat baik, dan diterima oleh masyarakat China saat ini.”

Uskup Shen menjelaskan Gereja di China “selalu tetap setia pada iman Katoliknya sambil berusaha untuk terus beradaptasi dengan sistem politik baru,” yang didirikan tahun 1949 setelah berakhirnya Perang Saudara China.

“Kebijakan kebebasan beragama [selama tahun 1949] yang diterapkan oleh pemerintah China tidak memiliki kepentingan untuk mengubah iman Katolik,” tambah prelatus itu.

Kebijakan tersebut hanya berharap agar para imam dan umat Katolik yang setia akan membela kepentingan rakyat China dan membebaskan diri dari kendali kekuatan asing, lanjut Uskup Shen.

Dia juga mengingat bahwa beberapa masalah masa lalu antara Gereja dan otoritas China sebagian disebabkan oleh “rasa superioritas budaya Eropa yang kuat” dari beberapa misionaris.

Para misionaris “bahkan bermaksud menggunakan agama Kristen untuk mengubah masyarakat dan budaya China,” yang “pastinya ditentang dan bahkan dibenci oleh banyak orang China,” tegas Uskup Shen.

Situasi ini “menghambat penyebaran Injil kasih yang lebih luas di kalangan masyarakat China,” keluh prelatus itu.

Uskup Shen juga menegaskan kembali bahwa Gereja di China akan mengikuti jalur Sinisasi yang selaras dengan masyarakat dan budaya China saat ini.

Di antara pembicara lain dalam konferensi tersebut, Giunipero mengenang “pengaruh misi Katolik yang signifikan dan sering diremehkan di China dan dunia.”

“Dari Gereja di China datang dorongan untuk perubahan yang telah mengubah Gereja di wilayah misi,” membantu membayangkan Gereja Universal yang “tidak lagi hanya menjadi pembawa budaya Eropa,” kata Giunipero.

Vatikan menaruh kepercayaannya pada klerus China “sangat membantu Gereja bertahan dalam kesulitan dalam dekade-dekade berikutnya,” tambah Giunipero.

Pembicara lainnya, Zheng, mengutip data pemerintah yang menunjukkan bahwa terdapat 98 keuskupan, sembilan institut, 6.000 gereja, 6 juta umat beriman, dan lebih dari 8.000 religius di China, dan menyatakan harapan bahwa perjanjian Sino-Vatikan akan diperbarui.

Sumber: Cardinal Parolin positive on renewal of sino-vatican pact

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi