UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

‘Yesus Korea’ yang mencintai pengembara Mongolia

Juni 6, 2024

‘Yesus Korea’ yang mencintai pengembara Mongolia

Pastor Stephen Kim Seong-hyeon terlihat bersama seorang gadis di depan 'ger' (tenda tradisional Mongolia) dalam foto ini. (Foto: Keuskupan Daejeon)

 

Ziekmet Dergy mengenang kembali kehidupan Pastor Stephen Kim Seong-hyeon saat sinar matahari yang menyenangkan menyentuh Erdensant, sekelompok desa di padang rumput luas di Mongolia tengah, di akhir musim dingin yang sangat dingin.

“Dia tidak seperti seorang ayah, dia benar-benar seorang ayah. Kekosongan karena ketidakhadirannya berdampak sangat besar,” kata Dergy  dalam wawancara baru-baru ini.

Imam misionaris Korea Selatan ini menghabiskan 22 tahun di Mongolia sebelum ia wafat pada 26 Mei di usia 55 tahun.

Ia tinggal bersama masyarakat di sebuah desa sekitar 216 kilometer dari ibu kota negara Ulaanbaatar.

Dergy, seorang guru, mengatakan penduduk desa memandangnya sebagai “Yesus yang datang kepada kami dalam wujud bayi terlemah di palungan yang kumuh.”

“Dia datang ke tempat terendah karena dia mencintai orang-orang. Seperti Yesus, dia tidak punya apa-apa untuk dipakai atau dimakan, jadi mereka memutuskan untuk berbagi dengannya apa yang mereka punya,” kenang Dergy.

Tuan Kim – ayah dan guru

Pastor Kim bekerja di berbagai paroki dan stasi dekat Ulaanbaatar selama sekitar 16 tahun.

Dia menghabiskan sisa hidupnya di Erdensant, Provinsi Tov, salah satu dari 21 provinsi di negara itu.

“Dia tidak membangun katedral yang megah atau sekolah yang mengesankan, namun dia adalah ‘wajah Yesus yang malang’ yang meninggalkan sesuatu yang lebih berharga,” kata seorang warga desa yang tidak disebutkan namanya.

“Dia ingin memperkenalkan Yesus seperti itu kepada orang-orang Mongolia,” kata penduduk desa tersebut.

Dergy ingat banyak penduduk desa yang merasa nyaman memanggilnya “Tuan Kim”, bukan imam.

Pastor Kim menjadikan doa sebagai bagian integral dari kehidupannya sehari-hari, katanya.

“Sepertinya dia selalu berdoa, bahkan ketika dia sedang merokok atau berjalan-jalan. Saat saya bertemu imam itu, saya merasa seperti Yesus datang kepada saya,” kenangnya.

Dia mengatakan Pastor Kim hidup seperti orang Mongolia di ger (tenda tradisional besar), memasak, makan, menunggang kuda, dan menggembalakan domba.

“Dia berbeda dengan orang asing lainnya yang mampir sebentar lalu pulang.”

Pastor Kim mengalami musim dingin yang keras dari tahun ke tahun di negara yang sering melihat ternak mati karena tidak bisa makan.

Baginya musim semi di Mongolia masih dingin, bahkan lebih dingin lagi di padang rumput yang belum tumbuh kehidupan.

“Kehidupan Pastor Kim yang penuh dengan dukungan seorang ayah, kenyamanan seorang sahabat, dan kasih Yesus, bagaikan kehidupan yang penuh musim semi,” ujarnya.

Dergy mengatakan Pastor Kim bertekad menjadi sahabat sejati bagi para warga  desa.

“Dia tinggal bersama mereka, memakai pakaian yang sama dan makan makanan yang sama. Dia tinggal di Erdensant lebih bahagia daripada orang lain,” kenangnya.

Pastor Kim juga mengajarkan Bahasa Korea kepada penduduk desa dan mendorong masyarakat untuk mendapatkan pendidikan guna berkontribusi terhadap pembangunan bangsa.

“Tuan Kim selalu menyuruh saya untuk belajar dan bekerja keras untuk membantu negara berkembang, dan membuat anak-anak saya juga belajar dengan giat,” tambahnya.

Lahir di Daejeon, Korea Selatan tahun 1968, Kim ditahbiskan menjadi imam tahun 1998. Ia pergi ke Mongolia sebagai misionaris dari Keuskupan Daejeon tahun 2000.

Dua tahun kemudian, ia membangun dan membuka Gereja Maria Diangkat ke Surga dalam bentuk ger Mongolia di Hang-ol, Ulaanbaatar.

Pintu gereja selalu terbuka bagi para pelancong untuk beristirahat di tempat suci bagi agama Katolik.

Orang-orang miskin yang tidak punya tempat tujuan sering kali mengetuk pintu untuk makan dan istirahat.

Pastor Kim juga mengumpulkan 12 anak miskin dan yatim-piatu yang sebagian besar merupakan pemulung. Di sisi gereja, dia menyiapkan kamar tidur dan ruang belajar untuk anak-anak tersebut.

Dia memberikan semua pakaian dan sepatunya kepada anak-anak itu agar mereka dapat bertahan hidup di musim dingin yang parah.

Dia berharap salah satu dari anak-anak ini suatu hari nanti akan menjadi imam.

“Dia adalah ayah dari anak-anak ini. Mereka masih sangat merindukannya,” kata Dergy.

Hadiah dari Tuhan

Meskipun mengalami cuaca dingin yang parah di tengah kurangnya listrik dan air, Pastor Kim pernah mengatakan bahwa Erdensant “seperti surga” bagi dia.

Kehidupan Pastor Kim merespons tanda-tanda zaman, kata Pastor Thomas Noh Sang-min dari Korea, pastor Paroki Bayinghesho Sophia di Mongolia.

“Ketika kapitalisme menyebar dan jumlah penganut apatis meningkat, dia merasa perlu membuat metode misionaris baru,” katanya, seraya menambahkan bahwa hal itu mendorong imam tersebut meninggalkan kota menuju desa.

“Menghidupkan spiritualitas kemiskinan adalah misi seorang imam misionaris,” jelasnya.

Ketika ditanya mengapa ia meninggalkan kehidupan yang nyaman untuk menjadi misionaris dalam kondisi yang sulit, Pastor Kim mengatakan bahwa ini adalah panggilan Tuhan baginya untuk menjadi “angin” yang bertiup di atas padang rumput luas di Mongolia dan Gereja kecilnya.

Dia menyukai Gereja Katolik kecil di Mongolia yang hanya memiliki 1.500 anggota di negara berpenduduk sekitar 3,4 juta jiwa yang sangat bergantung pada misionaris asing seperti mendiang Pastor Kim.

Paus Fransiskus menjadi paus pertama yang mengunjungi Mongolia pada 31 Agustus hingga 4 September 2023, tiga bulan setelah Pastor Kim meninggal akibat serangan jantung.

Pastor Kim khawatir dengan masa depan anak-anak yang dinafkahinya. Dia meminta rekan misionarisnya untuk memulai dana publik di Gereja Hang-ol untuk membantu anak-anak ketika dia tidak ada lagi.

Kembali ke Erdensant, Dergy mengatakan Pastor Kim adalah “hadiah dari Tuhan” untuk Mongolia.

Dia menyesalkan Pastor Kim meninggal tanpa melihat musim semi lagi, yang menghidupkan kembali negaranya setelah musim dingin  yang sangat keras.

“Tetapi hidupnya sendiri adalah sumber kehidupan selanjutnya. Kami yakin dia masih hidup,” katanya.

Sumber: The korean jesus who loved mongolian nomads

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi