UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Para uskup India minta Modi menjadikan masa jabatan barunya yang lebih ‘inklusif’

Juni 11, 2024

Para uskup India minta Modi menjadikan masa jabatan barunya yang lebih ‘inklusif’

Perdana Menteri India Narendra Modi memberi isyarat pada pertemuan tersebut sebelum mengambil sumpah jabatan untuk masa jabatan ketiga di New Delhi pada 9 Juni. (Foto: AFP)

 

 

Para uskup Katolik telah meminta Perdana Menteri India Narendra Modi untuk menjadikan masa jabatan barunya “inklusif” dengan memperlakukan semua warga negara secara setara dan menjunjung tinggi nilai-nilai konstitusi negara.

Modi dilantik untuk masa jabatan lima tahun lagi pada 9 Juni setelah Partai Bharatiya Janata (BJP) pro-Hindu, dengan bantuan sekutunya, mendapatkan 293 kursi di parlemen India.

Pemerintahan koalisi dibentuk setelah BJP, yang dituduh mengikuti kebijakan yang mengutamakan Hindu, gagal memenangkan mayoritas yaitu 272 kursi di Lok Sabha (majelis rendah) yang memiliki 543 kursi.

Pemungutan suara nasional tujuh tahap berakhir pada 1 Juni, dan hasilnya diumumkan pada 4 Juni.

Para uskup mengimbau pemerintah koalisi “bekerja keras dalam menegakkan nilai-nilai konstitusional, memastikan keadilan, kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan bagi semua warga negara.”

“Sangat penting bagi pemerintah untuk tetap inklusif dan berkomitmen terhadap kesejahteraan semua lapisan masyarakat, khususnya mereka yang terpinggirkan dan rentan,” kata Konferensi Waligereja India (CBCI) dalam sebuah pernyataan pada 9 Juni.

Para uskup mengatakan pemilu tersebut menyoroti “kekuatan etos demokrasi India.”

Pihak oposisi menuduh Modi, yang berkuasa sejak tahun 2014, mengikuti kebijakan untuk mengubah India menjadi negara Hindu yang teokratis pada masa jabatannya ketiga.

India menyaksikan 147 insiden kekerasan terhadap umat Kristen tahun 2014, dan jumlah insiden tersebut meningkat menjadi 599 tahun 2022, menurut para pemimpin Kristen.

Sebagian besar partai politik oposisi membentuk koalisi dengan slogan “menyelamatkan konstitusi” yang menekankan sekularisme.

Namun mereka hanya mampu memenangkan 234 kursi, kurang 38 kursi dari jumlah yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.

Para uskup mengakui “semangat partisipasi semua partai politik” dalam pemilu, yang menurut mereka menunjukkan semangat demokrasi di India.

Analis seperti Ashutosh Talukdar setuju.

“Dalam analisis akhir, ini adalah kemenangan demokrasi India. Ini adalah kemenangan pemilih India yang tidak berwajah,” kata Talukdar yang berbasis di Negara Bagian Assam, India timur laut.

Di tiga negara bagian yang mayoritas penduduknya beragama Kristen di timur laut – Nagaland, Meghalaya dan Mizoram – sekutu BJP bersikap rendah hati.

“Mandat ini sangat jelas. Ini adalah pemungutan suara yang menentang Narendra Modi,” kata Supongmeren Jamir, anggota Kongres yang baru terpilih dari Nagaland.

“Orang-orang marah” atas kekerasan anti-Kristen di Manipur, negara bagian lain di wilayah timur laut, katanya kepada UCA News.

Kekerasan terhadap orang Kristen di Manipur yang dimulai pada 3 Mei 2023 masih berlanjut dengan kekerasan sporadis. Namun Modi belum mengunjungi negara bagian berbukit tersebut.

Namun, analis Vidyarthi Kumar mengatakan, “Tidak adil mengejek Modi.” Dia menjelaskan Modi mungkin satu-satunya pemimpin yang melawan faktor anti-petahana setelah sepuluh tahun menjabat.

Pemimpin senior BJP beragama Kristen di Nagaland, M Chuba Ao, mengatakan “hasil yang tidak terduga” ini menunjukkan “ketahanan demokrasi India.”

“Kali ini, masyarakat ingin menegakkan akuntabilitas yang lebih besar,” kata Tushar Bhadra dari Varanasi. Modi mewakili daerah pemilihan Varanasi di parlemen.

A.C. Michael, koordinator nasional United Christian Forum, sebuah organisasi antar-denominasi yang memantau persekusi terhadap orang Kristen di negara tersebut, mengatakan umat Kristiani akan mengadakan konsultasi nasional menyusun daftar tuntutan untuk bernegosiasi dengan pemerintahan baru Modi.

India adalah negara yang sangat religius, dan hampir 80 persen penduduknya beragama Hindu. Muslim berjumlah hampir 15 persen, sementara umat Kristen hanya berjumlah 2,3 persen.

Sumber: Indian bishops tell modi to make his new term inclusive

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi