UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja Timur di India semakin terpecah belah akibat perselisihan liturgi

Juni 12, 2024

Gereja Timur di India semakin terpecah belah akibat perselisihan liturgi

Administrator apostolik Uskup Bosco Puthur (kiri) pada acara Gereja Siro Malabar di Negara Bagian Kerala, India selatan. (Foto: ernakulamarchdiocese.org)

 

Gereja Siro-Malabar Ritus Timur di India semakin dekat dengan perpecahan setelah perwakilan para imam dan umat awam di keuskupan agung itu meminta administrator yang ditunjuk Vatikan untuk keluar dari keuskupan agung mereka.

Perselisihan liturgi yang sedang berlangsung memburuk setelah surat edaran resmi mengancam akan mengusir para imam di Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly yang terus-menerus menolak menerima cara Misa yang disetujui sinode.

“Kami telah memanggil administrator apostolik Uskup Bosco Puthur di Rumah Uskup Agung pada 10 Juni dan meminta dia mengosongkan rumah itu pada atau sebelum 14 Juni,” kata Riju Kanjookaran, juru bicara Gerakan Transparansi Keuskupan Agung (AMT).

Dia mengatakan para pemimpin awam, yang bertemu pada 10 Juni, mendesak para imam untuk tidak mendoakan Uskup Agung Raphael Thattil atau uskup Gereja lainnya selama Misa mulai 4 Juli. Namun, mereka akan mencantumkan nama Paus Fransiskus.

Berdoa untuk paus, Kepala Gereja, dan uskup setempat selama Misa dengan menyebutkan nama mereka merupakan persyaratan liturgi, yang menunjukkan persekutuan Gereja lokal dengan Gereja universal.

“Kami telah kehilangan kepercayaan terhadap para uskup kami dan Sinode Gereja Siro-Malabar,” katanya kepada UCA News.

Uskup Puthur dan Uskup Agung Thattil mengeluarkan surat edaran pada 9 Juni yang menyatakan para imam yang tidak mengikuti liturgi yang disetujui Sinode pada 3 Juli akan kehilangan status klerikalnya, dan pelayanan sakramen-sakramen dari mereka akan dianggap tidak sah.

Surat edaran tersebut memperingatkan para imam yang mengabaikan ultimatum tersebut akan “secara otomatis keluar dari persekutuan Katolik” tanpa pemberitahuan sebelumnya.

‘Berusaha mandiri’

“Kami tidak ingin lagi Uskup Puthur terus berada di Rumah Keuskupan Agung kami setelah dia mengkhianati kami,” kata Kanjookaran kepada UCA News pada 11 Juni.

Pengamat Gereja mengatakan para imam dan umat awam di keuskupan agung tersebut menjauh dari Gereja ritus Timur mereka dengan meminta administrator yang ditunjuk Vatikan untuk meninggalkan keuskupan agung tersebut.

Pastor Kuriakose Mundadan, mewakili dewan imam keuskupan agung, mengatakan kepada media pada 10 Juni bahwa 450 imam di keuskupan agung dan 500.000 umat Katolik ingin menjadi “Gereja metropolitan independen” yang berada langsung di bawah Vatikan.

Menentang tuntutan para pemimpin Gereja, para imam tidak akan membacakan surat edaran itu di paroki mereka pada Minggu, 16 Juni. Mereka juga akan mengabaikan peringatan dan ultimatumnya karena surat edaran itu “dikeluarkan secara curang,” kata Pastor Mundadan kepada media.

Pastor Mundadan mengatakan keputusan ini diambil ketika sekitar 300 imam dan pemimpin awam bertemu secara terpisah pada 10 Juni. Mereka bersama-sama berbicara kepada media dan menolak surat edaran tersebut.
Beberapa umat awam juga ikut membakar salinan surat edaran tersebut di depan Rumah Keuskupan Agung itu.

Surat edaran tersebut dikeluarkan beberapa hari sebelum pertemuan Sinode Para Uskup pada 14 Juni, badan pengambil keputusan utama Gereja. Pemberitahuan Gereja mengatakan pertemuan sinode bertujuan “memutuskan penerapan liturgi yang disetujui Sinode” di keuskupan agung.

Kanjookaran mengatakan kepada UCA News bahwa sinode tersebut seharusnya mengeluarkan surat edaran setelah pertemuannya. Namun, penerbitan surat edaran lima hari sebelum sinode “mempertanyakan kredibilitas dan kemampuan sinode.”

AMT, sebuah badan yang terdiri dari para imam, religius, dan awam di keuskupan agung, tempat kedudukan Uskup Agung Utama, mempelopori protes terhadap Misa yang disetujui Sinode.

Umat Katolik di keuskupan agung ingin para selebran menghadap umat sepanjang Misa, seperti yang telah dilakukan selama lima dekade terakhir.

Beberapa umat menyebutnya “ilegal,” mengingat bahwa pertemuan sinode, seperti yang diarahkan oleh Paus Fransiskus, belum diadakan.

‘Paus mencari penyelesaian damai’

Bulan lalu, paus bertemu dengan para pemimpin Gereja dan mengatakan kepada mereka bahwa dia tidak ingin mengambil keputusan untuk “sui juris” (Gereja mandiri) namun ingin Gereja menemukan cara untuk menyelesaikan perselisihan secara damai.

Seorang pejabat Gereja, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan kepada UCA News bahwa surat edaran itu sengaja dibocorkan ke media sebelum sinode “untuk menekan sekitar 16 uskup” yang menentang sinode untuk menerapkan cara Misa yang seragam di gereja-gereja keuskupan agung itu.

Pejabat itu mengatakan para uskup tersebut memberi tahu Sinode bahwa perbedaan pendapat mereka harus dicatat ketika keputusan untuk memberlakukan Misa yang disetujui Sinode di keuskupan agung itu sudah selesai.

Ketika media mulai memperbincangkannya, Uskup Agung Thattil dan Uskup Puthur menandatangani dan merilisnya secara resmi pada 9 Juni, lima hari sebelum sinode.

Gereja resmi belum menanggapi situasi saat ini.

Gereja ini memiliki 5 juta umat Katolik di 35 keuskupan di India dan luar negeri.

Sekitar 12 keuskupan pada awalnya menolak Misa yang disetujui Sinode, tetapi kecuali keuskupan agung, semua keuskupan lainnya menerimanya mengikuti perintah Sinode pada Agustus 2021 untuk melakukan hal tersebut.

Sumber: Indias eastern church moves closer to split

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi