UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Akademisi awam mendominasi penelitian mengenai umat Katolik di Asia: survei

Juni 14, 2024

Akademisi awam mendominasi penelitian mengenai umat Katolik di Asia: survei

Pengetahuan dan penelitian mengenai umat Katolik di Asia dihasilkan oleh beragam kelompok aktor. (Foto: isac-research.org)

 

Dalam tren perubahan yang terjadi di seluruh Gereja di Asia, jumlah akademisi awam yang memiliki keahlian  di kawasan ini semakin meningkat, sehingga studi-studi semacam ini tidak lagi didominasi oleh para klerus, menurut sebuah survei terbaru.

Meningkatnya keterlibatan non-klerus dalam mempelajari umat Katolik di Asia menggambarkan “bagaimana bidang penelitian ini secara bertahap berpindah ke ranah publik,” demikian menurut hasil survei yang dirilis pada 14 Juni oleh Initiative for Study of Asian Catholics yang berbasis di Singapura.

Survei tersebut “bertujuan mengevaluasi keterlibatan akademisi yang memiliki pengetahuan tentang umat Katolik di Asia dalam Sinode tentang Sinodalitas,” kata teolog awam Michel Chambon, peneliti utama survei tersebut.

Ini adalah “usaha pertama untuk memetakan  penelitian mengenai umat Katolik di Asia dari perspektif interdisipliner,” kata Chambon.

Survei ini dilakukan pada Mei ketika sesi kedua Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-16, yang populer disebut Sinode tentang Sinodelitas, yang dijadwalkan pada Oktober di Vatikan.

Laporan survei, Sinodalitas dan Akademisi Katolik di Asia, menyatakan mereka mengundang 292 akademisi  untuk berpartisipasi, dan 119 orang menjawab, dan ini merupakan sepertiga peserta.

Sebanyak 75 persen (90 responden) adalah umat awam, sedangkan pastor dan biarawati hanya berjumlah 25 persen (29 responden).

“Di Asia abad ke-21, pengetahuan dan penelitian mengenai umat Katolik di Asia dihasilkan oleh beragam aktor, dan sebagian besar dari mereka berada di luar lingkup klerus,” kata laporan survei tersebut.

Beberapa orang awam tidak menjalankan ajaran Katolik, tambahnya.

Sebagian besar responden (79 persen) memiliki kualifikasi doktoral, yang menunjukkan bahwa sebagian besar akademisi Katolik di Asia “telah mencapai pencapaian pendidikan yang tinggi dan memiliki keahlian profesional,” kata laporan tersebut.

Laki-laki mendominasi (65 persen) di kalangan akademisi, dengan lima persen menolak mengungkapkan gender mereka.

Sebagian besar akademisi berusia antara 45 hingga 64 tahun, namun 27 persen berusia di bawah 45 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa beasiswa “telah dibangun selama beberapa dekade dan terus menarik minat generasi sarjana berikutnya.”

Para akademisi tersebut berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu sosial (34), teologi (28), sejarah (18), dan studi agama (17).

Laporan tersebut mengatakan  hanya satu pengacara kanon menunjukkan bahwa “pembuatan Hukum Kanonik pada masa kini hampir tidak bersinggungan dengan penelitian yang sedang berlangsung mengenai umat Katolik di Asia.”

Sebagian besar akademisi ini berbasis di Asia dan negara-negara Barat, dengan hanya satu responden yang berasal dari Afrika dan Amerika Latin. Studi ini menunjukkan, meskipun terdapat umat Katolik yang kuat di wilayah-wilayah tersebut, mereka “masih kurang terwakili dalam kajian mengenai umat Katolik di Asia.”

“Sangat sedikit, kalaupun ada, penelitian mengenai umat Katolik Asia di  Amerika Latin dan Afrika,” kata laporan itu.

Konsultasi luas

Hirarki Asia telah melibatkan berbagai akademisi dalam konsultasi Sinode, tanpa memperhatikan gender, usia, dan status klerus, menurut penelitian tersebut.

Akademisi – pastor, biarawati, awam, dan perempuan – yang memiliki keahlian dalam bidang umat Katolik di Asia “bukan hanya sekedar analis eksternal terhadap Gereja Katolik tetapi juga partisipasi sebagai pengamat,” kata survei tersebut.

Di antara 49 akademisi yang berkontribusi pada Sinode tentang Sinodalitas, 23 diantaranya adalah imam, dari total 30 anggota imam yang mengikuti survei.

Angka ini menunjukkan tiga perempat dari ‘akademisi klerikal’ (76 persen) “mengambil inisiatif untuk mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan sinode.”

Namun, dari 89 responden awam yang diidentifikasi sebagai awam, 26 orang, atau kurang dari sepertiganya, berinisiatif untuk mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan Sinode tentang Sinodalitas.

“Sinode tentang Sinodalitas tampaknya menarik minat yang lebih tinggi dari para cendekiawan yang menjadi anggota klerus atau ordo religius dibandingkan dengan kaum awam,” kata laporan itu.

Hasil survei menunjukkan sekitar seperempat (30 dari 119) menjadi konsultan oleh badan-badan gerejawi seperti konferensi-konferensi waligereja, tim nasional, struktur kontinental, gerakan internasional, dan komite kepausan.

Teologi atas ilmu sosial

Di antara 89 akademisi yang tidak diajak berkonsultasi, mayoritas (87 persen) mengatakan mereka “bersedia berkontribusi pada sinode jika diajak berkonsultasi.”

Survei tersebut menganalisis lima poin penting tentang 30 akademisi yang dikonsultasikan.

Survei tersebut mengungkapkan bahwa identitas gender “tampaknya tidak mempengaruhi pemilihan akademisi yang dimintai pendapat.”

Di antara para akademisi yang dimintai konsultasi, 66,6 persen diidentifikasi sebagai laki-laki sementara 23,3 persen diidentifikasi sebagai perempuan, “yang mendekati rasio gender dari populasi umum akademisi Katolik di Asia,” kata survei tersebut.

Faktor lain yang dipertimbangkan adalah pengaruh klerikal di kalangan responden. Dari akademisi yang dimintai konsultasi, 40 persennya adalah pastor dan biarawati, namun hanya seperempat dari populasi akademisi secara umum yang merupakan klerus atau biarawati.

“Akademisi yang merupakan anggota klerus lebih cenderung diajak berkonsultasi oleh Gereja Katolik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sinodalitas,” tambah laporan itu.

Survei ini juga mengungkapkan bahwa baik akademisi yang sudah mapan maupun yang baru muncul telah diajak berkonsultasi. Akademisi yang telah menerbitkan lebih dari 11 makalah (47 persen) dan mereka yang telah menerbitkan antara satu hingga lima makalah telah dikonsultasikan untuk sinode tersebut.

Lebih dari separuh (16 responden) yang berpartisipasi dalam konsultasi sinode mengatakan mereka tidak menerima kompensasi dalam bentuk apapun. Sepuluh di antaranya mengaku masih aktif dalam kerja sama ini.

Para teolog hanya berjumlah 19 persen dari 119 akademisi Katolik Asia yang berpartisipasi dalam survei ini.

Angka ini menunjukkan bahwa teologi lebih diprioritaskan dibandingkan ilmu-ilmu sosial, dan latar belakang akademis berperan “dalam pemilihan akademisi yang dikonsultasikan.”

Namun, dari 30 akademisi yang dimintai masukan, sekitar 14,5 persen adalah para teolog.

Sumber: Lay academics dominate research on asian catholics: survey

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi