UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Malaysia tekankan dialog untuk atasi perbedaan

Juni 17, 2024

Kardinal Malaysia tekankan dialog untuk atasi perbedaan

Kardinal Sebastian Francis. (Foto: Keuskupan Penang, Malaysia)

 

Malaysia menghadirkan mikrokosmos Gereja Katolik dan Asia di mana keragaman budaya dan agama menawarkan peluang dan tantangan bagi umat Katolik dan umat beragama dalam masyarakat majemuk untuk maju bersama, kata Kardinal Sebastian Francis.

“Plurisme budaya dan kelompok etnislah yang menjadikan Malaysia sebagai ‘miniatur Asia’. Koeksistensi berbagai komponen memungkinkan komunitas Katolik untuk mengalami interaksi perbedaan yang terjadi dalam keberagaman,” kata Uskup Penang itu, seperti yang dilaporkan Fides pada 15 Juni.

Keberagaman budaya dan agama di Malaysia “cukup sehat” meskipun etnis Melayu dan Islam dianggap “nasional” dan Muslim Melayu dianggap “istimewa” karena status konstitusional dan perlindungan sebagai Bhumiputera (Putra Tanah), kata pemimpin tertinggi Katolik Malaysia itu.

“Warga Melayu dilindungi dan hanya beragama Islam, sebagaimana tercantum dalam Konstitusi. Namun negara demokratis seperti kita saat ini tidak bisa memilih untuk sepenuhnya monokultural atau monoreligius. Negara kita memiliki ciri pluralisme menarik yang menjadikannya negara Asia sesungguhnya, sebuah mikrokosmos di mana seseorang dapat merasakan dimensi konstituen Asia,” kata Kardinal Francis.

Etnis Melayu merupakan 60 persen dari sekitar 34 juta penduduk Malaysia, menurut statistik resmi. Sekitar 24 persen adalah warga Tionghoa, 7 persen adalah warga India, dan 10 persen adalah masyarakat asli non-Melayu yang sebagian besar tinggal di Pulau Kalimantan.

Sekitar 10 persen warga Malaysia beragama Kristen, sebagian besar tinggal di Negara Bagian Sarawak dan Sabah di Kalimantan.

Keberagaman etnis dan agama di Malaysia menawarkan peluang dan tantangan bagi pembangunan menuju masyarakat yang benar-benar pluralistik, kata kardinal.

Jalur “sinodalitas” dan “dialog” merupakan kunci untuk mengatasi perbedaan dan terbentuknya masyarakat yang berlandaskan kekayaan keberagaman, ujarnya.

Ia menjelaskan meskipun ada perbedaan etnis dan budaya dalam komunitas Katolik di Malaysia, Gereja tetap berkomitmen untuk melayani semua orang.

Di berbagai wilayah di negara ini, Gereja mengadakan liturgi dalam empat bahasa resmi – Melayu, Inggris, Mandarin, dan Tamil India, katanya.

“Meskipun kami bukan negara besar, kami punya banyak imigran yang berasal dari Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Bangladesh. Beberapa dari mereka juga membawa tradisi Kristen, tentu saja [seperti beberapa orang Vietnam atau Filipina],” tambahnya.

Meskipun umat Katolik adalah minoritas, Gereja memiliki sumber daya yang diperlukan untuk kehidupan pastoral, katanya.

Kurangnya panggilan imam dan religius diisi oleh ordo religius misionaris terutama dari Prancis, Irlandia, dan Italia.

Sejak Konsili Vatikan Kedua, Gereja lokal telah menekankan pembentukan iman dan pemberdayaan umat awam, kata Kardinal Francis.

“Kami peduli terhadap kehidupan Kristiani kaum awam dan setelah Konsili Vatikan Kedua kami menekankan pembinaan kaum awam, terutama melalui kursus-kursus pelatihan atau acara pendidikan berkelanjutan di paroki-paroki,” ujarnya.

Namun, kardinal itu menyesalkan bahwa perubahan politik di negara tersebut berdampak negatif terhadap misi Gereja.

“Pengaruh kita di bidang pendidikan sangat berkurang karena pemerintah mengambil alih pendidikan di sekolah negeri, baik negeri maupun swasta,” ujarnya.

“Kalau kita ingin hadir di bidang pendidikan, kita harus berperan sebagai swasta, tapi pemerintah juga mengontrol pendidikan swasta, menentukan kurikulum, dan membayar gaji guru. Jadi, kami memiliki real estate dan tanah di mana sekolah dibangun, namun pemerintahlah yang mengontrol kehidupan sekolah. Jadi, secara teknis kami memiliki gedungnya tetapi bukan sistemnya. Kita berkontribusi, tapi kita tidak bisa memberikan bentuk konkrit pada sistem pendidikannya,” ujarnya.

Oleh karena itu, Gereja telah mengalihkan fokusnya pada “misi sosialnya.”

“Kami telah mengalihkan sumber daya dan energi kami, misalnya, ke bidang pembangunan manusia integral: kami bekerja terutama dengan para migran dan pengungsi atau dalam situasi kemiskinan dan kebutuhan, sering kali bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah, untuk pembangunan sosial,” ujarnya.

Sumber: Malaysian cardinal emphasizes pluralism for progress

 

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

Podcasts
Donation
© UCAN Indonesia 2024. | Kontak | Tentang | Syarat dan Ketentuan | Privasi