UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

Haruskah Gereja terlibat dalam masalah sosial?

27/04/2012

Haruskah Gereja terlibat dalam masalah sosial? thumbnail

Bukan hal baru, bila umat seringkali berharap Gereja mengambil sikap tertentu di hadapan persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar atau yang sedang menjadi wacana publik, terutama yang berkaitan dengan persoalan kemanusiaan.

”Apa sikap Gereja?” menjadi pertanyaan yang selalu dinanti-nanti jawabannya. Di balik pertanyaan itu secara apriori ada keyakinan si penanya, bahwa sikap yang bakal diambil Gereja pastilah menjadi cerminan kebenaran. Alasannya, sudah lama, suara Gereja dianggap kritis, bersih dari kepentingan-kepentingan pragmatis dan bebas dari intrik-intrik tertentu.

Pilihan sikap Gereja dianggap selalu berangkat dari dan tertuju pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Dalam terminologi Kristiani, nilai-nilai yang diperjuangkan Gereja terarah pada konkretisasi Kerajaan Allah.

Namun pesoalannya, apakah Gereja kini masih selalu mau terlibat atau minimal menyatakan sikap di hadapan sejumlah soal yang muncul di tengah masyarakat.

Entah diakui atau tidak, kadang ada keengganan pihak Gereja untuk mengambil sikap tertentu karena takut mengambil resiko yang kadang memang harus dibayar mahal. Makanya, Gereja terkesan lamban mengambil sikap. Kalaupun cepat, maka selalu penuh dengan kehati-hatian.

Karena itu pula, sebagian religius atau anggota hirarki yang dalam arti tertentu boleh dianggap vokal, aktif, berani cenderung dianggap tidak taat dan bergerak di luar jalur.

Kesan semacam itu mungkin bisa dibenarkan. Tapi, catatannya, jangan sampai keengganan dalam mengambil sikap membuat kehadiran Gereja tak lagi mendatangan dampak sosial bagi banyak orang. Jangan sampai Gereja hanya berkutat pada urusan ritual, meski itu selalu penting.

Padahal, keterlibatan dalam persoalan konkret masyarakat tempat dimana Gereja hadir perlu dilihat sebagai sebuah imperasi iman juga prasyarat jika Gereja tidak mau kehilangan relevansi kehadirannya. Ini mengandaikan juga adanya kemampuan dan kemauan Gereja sendiri untuk membaca tanda-tanda zaman.

Desakan untuk terlibat juga lahir dari kenyataan, dunia kita makin jauh dari tatatan ideal. Penyebabnya bermacam-macam. Sekedar menyebut satu fenomena, globalisasi yang diagung-agungkan ternyata berwajah ganda, mendatangkan berkah sekaligus kutuk.

Di satu pihak, globalisasi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di pihak lain, globalisasi yang juga ditandai perubahan cara berpikir menjauhkan kita dari tatanan hidup yang baik, ketika dalam masyarakat terjadi pembalikan nilai.

Misalnya, cita-cita mencapai keadilan sosial gagal ketika yang terjadi adalah ketidakadilan, ketika gerak ekonomi berada sepenuhnya di tangan pemodal sedangkan masyarakat kecil terus dililit kemiskinan. Cita-cita meciptakan perdamaian pun gagal ketika kita berhadapan dengan fakta permusuhan yang menyebar dimana-mana.

Penghormatan terhadap lingkungan juga makin jauh dari kenyataan. Sementara itu, pemerintah sebagai penentu kebijakan publik, de facto, tidak memainkan perannya secara bertanggung jawab.

Kasus-kasus kejahatan datang silih berganti. Dan acapkali persoalan yang satu belum selesai, lahir lagi persoalan berikut

Kondisi ini makin parah karena dalam tatanan hidup bersama tercipta sebuah gejala darwinisme sosial, yaitu ideologi dan pola politik yang menyingkirkan orang miskin dan lemah tanpa mengenal ampun.

Tampaknya prinsip survival of the fittest (yang kuatlah yang bisa bertahan) sudah sedemikian merasuki ranah kehidupan sosial masyarakat. Solidaritas luntur. Individualisme pun makin berkembang.

Ini sekilas gambaran situasi kehidupan bersama kita, di mana Gereja juga adalah bagian yang sama sekali tidak terpisah dari fakta seperti ini. Tentu saja, Gereja tidak bisa lagi lari dari dunia atau hanya fokus pada urusan di sekitar altar. Gereja pun tidak bisa lagi mengajarkan rekonsiliasi di mimbar tanpa komitmen jelas dan pemihakan tegas pada perjuangan membela mereka yang ditindas, dipinggirkan dan diperas.

Pembongkaran budaya represif tidak bisa lagi hanya terjadi lewat khotbah-khotbah. Tetapi pembongkaran itu hanya mungkin berhasil di tengah perjuangan pemerdekaan masyarakat yang menjadi korban. Bentuknya, antara lain lewat upaya-upaya nyata yang memberdayakan, entah karya sosial karitatif maupun advokasi bagi masyarakat-masyarakat yang haknya dilanggar demi kepentingan sekelompok orang.

Gereja perlu memadukan altar, tempat ia menimba kekuatan untuk berkarya dan konteks tempat dimana Gereja mengalami perjumpaan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Tuntutan keterlibatan Gereja perlu diberi catatan berikut: dalam melibatkan diri, bukan mentalitas proyek yang dibangun. Mentalitas proyek bisa menggiring perjuangan pada cara-cara pragmatis.

Perjuangan perlu ditempatkan dalam kerangka aktualisasi pilihan untuk menghadirkan kerajaan Allah. Artinya, keberhasilannya bukan semata-mata berdasakan parameter kuntitatif, tetapi juga dan terutama pada kesetiaan dengan komitmen untuk menjalankan peran profetis.

Gereja tidak akan berperan sebagai penggerak pembaruan tanpa terlibat langsung. Hanya setelah terjun dan melibatkan diri Gereja bisa makin menemukan arti penting kehadirannya.

Karena itu, tidak ada cara lain selain ia merefleksian dan mengambil langkah nyata berhadapan dengan persoalan-persoalan konkret kini dan di sini. Tanpa itu, Gereja akan terus didera oleh persoalan insignifikansi internal dan irelevansi eksternal. Artinya, ke dalam ia tak lagi membawa pembaruan dan ke luar pun ia sama sekali tidak menyumbangkan apa-apa.

Jadi jawaban terhadap judul catatan ini, ”Haruskah Gereja Terlibat Dalam Masalah Sosial?”, perlu tegas, ”Ya!”. Alasannya, itu merupakan bagian dari peran profetis dan imperasi iman akan Allah yang juga sudah memilih terlibat dan solider dengan kita sebagai manusia.

Ryan Dagur, wartawan ucanews.com

  • Erascopertinhobaum

    Terima kasih, Pak Ryan.
    Saya mengutip sepotong pesan dari seorang sahabat yang entah siapa namnya….Tapi, saya merindukan sosok itu ada,,,Begini dia menulis:
    “Saya merindukan Gereja Indonesia yang kakinya berpijak pada kaum miskin, bukan Gereja yang ribut persoalan remeh-temeh seperti Tata Perayaan Ekaristi. Bukan Gereja yang sibuk mendirikan gereja sekadar untuk melarikan diri dari persoalan duniawi. Saya merindukan Gereja, termasuk imam, bruder, suster, yang tidak dremimil dalam mendaraskan doa tapi tak punya nyali memanggul salib Kristus. Juga, rindu uskup yang ketajaman imannya menuntunnya berdiri di depan, menegakkan keadilan, memperjuangkan kesejahteraan seluruh bangsa, menjaga peradaban lingkungan supaya lestari… Bukan uskup yang sibuk
    ngurusi pastor-pastor manja yang tidak mau kerja kalau nggak ada duit dan fasilitas, yang ogah kerja di pedalaman, yang gila hormat, yang
    maunya cuman mimpin misa… Singkirkan saja rohaniwan macam itu. Dunia butuh murid Kristus yang radikal dan militan seperi Lugo, Romero,
    Mangun…”

  • Agungsatyawan

    Barangkali dalam pendidikan semenari perlu ada program semacam KKN dimana para semenaris diterjunkan di tempat-tempat yang menjadi sumber permasalan sosial untuk belajar dari grass-root dan mempertajam analisa sosial mereka.
    Perlu juga kiranya pengiriman pastor untuk belajar teologi di Amerika Latin atau di negara-negara berkembang lainnya yang kondisinya mirip dengan Indonesia. Sejauh ini paling banyak mereka di kirim untuk belajar di negara-negara yang sudah “established” seperti di Eropa dan Amerika Utara.

  • Akong_stephen

    wow. Aku suka komen orang itu. sebuah komen yang luarbiasa benarnya. Aku juga melihat banyak sekali bruder dan gembala2 yang hanya belajar tata cara peribadatan seolah2 tata cara peribadatan itu adalah Kehendak Tuhan yang tertinggi, padahal Kehendak Tuhan yang tertinggi adalah real action, mencintai sesama, terutama merawat orang2 yang lemah, melayani sesama. Banyak sekali bruder2 dan gembala merasa puas dgn tugas memimpin misa dan tata cara peribadatan saja, melayani Tuhan Yesus tidak dgn sungguh krn ada motif di balik semua itu, dan akibatnya itulah yang menjauhkan mereka dan Tuhan. Hanya orang2 yang benar2 berkorbanlah yang bisa merasakan kehadiran Roh Kudus dan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata via Katya Rivas thn 1996 bhw ada banyak rumput liar tumbuh di dalam Gereja, dan perlu adanya pembabatan rumput2 liar itu tidak hanya sekali setahun, melainkan sekali setiap musim.

  • Sd_santofransiskus

    Berbicara itu gampang tetapi melaksanakannya itu yang sulit. butuh komitmen yang tinggi dan dukungan yang besar juga.hati yang terbuka dam peduli

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Para uskup Pakistan himbau umat Kristiani merayakan Natal secara sederhana
  2. Para kandidat berjanji tidak kekerasan pemilu selama perjalanan paus di Sri Lanka
  3. Agama Sebagai Permainan Politik: Meningkatnya Intoleransi di Indonesia
  4. Mengapa Paus Fransiskus hindari pertemuan dengan Dalai Lama
  5. Menag: Jangan jelek-jelekkan agama lain
  6. Polisi siaga terkait ancaman demonstran anti penggunaan antribut Natal
  7. Gereja Katolik buka posko bantuan untuk para korban longsor Banjarnegara
  8. Uskup Papua Nugini kecam perburuan terhadap para penyihir untuk dibunuh
  9. Halau radikalisme, Ulil harap umat Muslim tafsirkan Alquran lebih inklusif
  10. Gereja Katolik di Pakistan mengecam serangan di sekolah
  1. 22 pelajaran bijak dari seorang ibu
  2. Para kandidat berjanji tidak kekerasan pemilu selama perjalanan paus di Sri Lanka
  3. Para pengungsi Kristen keluar dari hutan Kamboja
  4. Para uskup Pakistan himbau umat Kristiani merayakan Natal secara sederhana
  5. Muhammadiyah tak haramkan Muslim ucapkan Natal
  6. Pemuda-Pemudi Muslim meriahkan Christmas Carol di Ambon
  7. Kalbar miliki gereja Katolik berkapasitas 3.000 Orang
  8. Agama Sebagai Permainan Politik: Meningkatnya Intoleransi di Indonesia
  9. Umat Katolik di Tiongkok adakan Malam Kasih Natal
  10. Renungan Hari Minggu Adven Keempat bersama Pastor Bill Grimm
  1. Ada mafianya tuh makanya BA gak berani cabut segelnya......
    Said kepuh on 2014-12-15 07:49:00
  2. sayangnya... Pak Hasyim tidak bisa menaham segelintir Umatnya yang nakal dan mas...
    Said Maman Sutarman on 2014-12-02 08:23:00
  3. Lagi lagi membenarkan diri? Tidak mewakili Malaysia secara keseluruhan? Pemerint...
    Said on 2014-12-02 08:10:00
  4. "Tidak dibenarkan" bukan DILARANG. Karena tidak dilarang, terjadi penutupan ger...
    Said on 2014-12-02 08:05:00
  5. Kalau boleh saran, berilah pakaian kepada yang telanjang, pakaian pantas untuk m...
    Said on 2014-12-01 07:02:00
  6. Terima kasih banyak Pater..atas kritikan dan sarannya.. Tuhan memberkati....
    Said on 2014-11-10 19:35:00
  7. Artikel berjudul "Paus membuat peraturan terkait pemberhentian dan pengunduran d...
    Said J. Mangkey msc on 2014-11-10 11:59:00
  8. Jangan terlalu berharap kebaikan dari DPR yang baru.. Teringat "kucing yang seda...
    Said on 2014-10-10 05:27:00
  9. Korupsi dana pendidikan jangan mengabaikan modus pelaku pada tingkat sekolah: ke...
    Said Lakestra on 2014-10-09 09:15:00
  10. Umat tak butuh statement, tapi kebijakan. Apa yang dapat Gereja bantu terhadap m...
    Said Brian Susanto on 2014-10-09 04:48:00
UCAN India Books Online